Minggu, 29 September 2013

Berpetualang Ke Bali


Alarm dari ponsel ku berdering sangat keras, saat itu menunjukan pukul 02:00 dini hari. Kemudian aku terbangun setelah hanya baru 3 jam tidur. Sengaja aku men-set alarm di ponsel sepagi mungkin, karena aku tak mau tertinggal kereta.


10 Agustus 2013, itu tanggal yang muncul di kalender untuk hari ini. Hari ini adalah hari yang sangat ku nantikan, karena dari hari ini, perlahan, aku akan mulai melangkah untuk mewujudkan mimpi ku sebagai traveler. Ya, aku ingin sekali berkelana menjelajahi seluruh bagian yang ada di bumi ini, dataran tertinggi, dasar laut terdalam, gurun terpanas, kutub terdingin, goa tergelap, hutan yang tak terlihat kehidupan, kota termodern, hingga perkampungan paling primitif sejagat raya ini. Semua, semua ini ingin aku jelajahi sampai tak ada lagi tempat yang belum pernah aku datangi. Karena, sampai saat ini aku masih terkurung di pulau ---- yang apabila kita lihat di peta gambar nya lebih mirip ikan laut yang tak berekor ---- Jawa.
 
Perjalanan untuk hari ini sudah aku persiapkan sejak 71 hari yang lalu. Dan Bali adalah luar pulau pertama ku dalam mewujudkan mega proyek besar ku untuk menjelajahi dunia. Aku pilih Bali karena disana aku mendengar lagu indah tercipta, dari sana pula orang-orang menyimpan mimpi indah nya, dan dari tempat ini juga orang-orang dari seluruh dunia mengenal negeri ini.

Pukul 04:13, itu waktu yang ku lihat di jam tangan plastik murahan ku saat aku tiba di stasiun. Kereta yang akan aku naiki berangkat pukul 05:30, masih ada waktu lebih dari satu jam lagi. Aku betul-betul menikmati saat itu, sebuah ruang tunggu Stasiun kereta. Banyak orang disana, terutama para pemudik, karena dua hari kemarin adalah idul fitri, dan hari ini masih dalam keadaan suasana lebaran. Aku duduk dibangku paling depan, indah sekali saat itu, sungguh indah. Melihat orang-orang yang akan pergi jauh, barang-barang setumpukkan yang mereka bawa, dan ada tangis haru perpisahan disana.

Ruang Tunggu Staiun Kiaracondong

Ruang Tunggu Stasiun Kiaracondong

 
Langit sudah mulai sedikit terang. Setengah jam lagi kereta berangkat. Aku tunjukkan tiket kereta pada petugas. Baru aku bisa masuk ke-area dalam stasiun. Ku lihat kereta 7 gerbong berbaris dengan angkuh, kaku, berdiri disiplin menunggu perintah. Laksana tentara dari negeri antah berantah yang menunggu perintah dari komandan nya untuk perang, setelah lama mereka latihan. Dan aku bangga disini, melihat kendaraan sombong yang tak pernah mau mengalah ini. Aku bangga menjadi bagian kecil dari orang-orang yang memanfaatkan kesombongan nya. Kawan, ku beri tahu kau, jangan pernah berani menghalangi kereta yang sedang berjalan. Sebab, jika kau punya nyali untuk itu, kamu akan terlihat konyol, kamu seperti menghadang pasukan tentara yang akan perang. Dan kamu tidak punya apa-apa. Sedangkan mereka membawa lengkap persenjataan. Bisa mati kau, dibunuh dengan sadis. Tak ada pemohonan maaf disana. Dan kamu tak akan dikenang sebagai pahlawan. Kamu, akan dikenang sebagai orang tolol, atau pecundang.

Kereta Api Pasundan Kiaracondong

Kereta Api Pasundan




 

Kereta mulai berjalan. Telat 23 menit dari yang dijanjikan. Petinggi negeri ini mengkhianati kesepakatan yang telah aku dan mereka sepakati. Saat itu, di loket pemesanan tiket, aku dan mereka telah membuat perjanjian. Ditempat keramat itu kita sepakat kereta berangkat pukul 05:30. Namun apa yang terjadi, pukul 05:53 kereta baru berangkat. Aku kecewa, hati ku sakit, aku merasa di khianati. Mereka mengingkari nya tanpa rasa bersalah, tanpa permohonan maaf. Pengkhianatan pertama: kereta terlambat berangkat.

Pagi yang indah, daun-daun masih berembun, suara nyanyian burung dan matahari yang terbit dengan sempurna menemani awal perjalanan ku. Disebelah utara gunung Manglayang yang tinggi, menjulang, memperhatikan kami dengan senyum ramah nya. Di selatan, ya tuhan, aku baru melihat nya pertama kali, yang bersembunyi dibalik kabut pagi ini, Boscha? Ah, nampak nya bukan. Boscha tak mungkin terlihat dari sini. Karena Boscha ada jauh di Lembang sana, di Bandung sebelah utara, bukan selatan. Lantas bangunan apa itu? Bulat setengah bola, unik, megah, berdiri di ladang yang kosong, sendiri, hanya sendirian. Oh iya, baru aku ingat, 10 tahun yang lalu, tepat di tempat itu, aku mendengar pemerintah akan membangun panggung pertunjukkan raksasa, yang megah, itu adalah theater of dream bagi kami, bagi penghuni kota ini, bagi rakyat pasundan. Sebuah stadion canggih pertama yang dibangun di negeri ini, dengan teknologi tinggi, desain modern, bertaraf internasional. Sungguh aku dibuat takzim oleh nya. Inilah Gelora Bandung Lautan Api, simbol heroik tentang perjuangan kota ini.

Setelah beberapa saat, kereta mulai menerobos perbukitan, membelah gunung dan menyebrangi banyak sungai. Banyak pemandangan yang menyegarkan sepanjang perjalanan. Pohon-pohon tinggi yang rimbun, sungai yang deras dan jernih, batu-batu raksasa yang memaksa menampakkan diri dari permukaan tanah, hingga rumah-rumah mungil dari kayu diantara belantara hutan. Semuanya adalah pemandangan yang dapat aku pandang, yang dapat aku nikmati. Aku menikmati apa yang dapat aku nikmati.

Tibalah kereta diantara dua gunung yang tinggi. Kereta seakan ingin melompat dari bukit satu ke bukit lain nya, atau kereta terbang untuk sampai di depan. Rasanya dua hal itu tidak mungkin terjadi. Sebab kereta tidak akan pernah mengkhianati hukum fisika. Sejak pertama kali kereta ditemukan dan kemudian dibuat, tidak pernah ada kereta bisa melompat, apalagi terbang. Jelas kereta juga mengenal dengan baik teori yang dikemukakan Sir Isac Newton. Tentang hukum gravitasi. Tapi tak begitu dengan apa yang ku lihat dari jendela, kereta seakan betul-betul melayang. Berjalan dengan sopan diantara dua gunung yang tinggi. Tak kulihat penyangga, ataupun sayap untuk terbang. Rasanya, kereta yang ku tumpangi mempunyai kekuatan mistis. Atau mungkin kereta sedang lupa teori paman ku Sir Isac Newton, tentang hukum gravitasi.

Jalan Lingkar Nagreg


Lingkar Nagreg

 
Perlahan, kereta sudah menjauh dari peristirahatan nya semalam. Meninggalkan Bandung dan kota-kota lain nya di Jawa Barat ini. Sidareja, adalah stasiun pemberhentian pertama di Jawa Tengah, sebuah stasiun kecil. Aku baru pertama kali mendengar nama daerah itu, Sidareja. Aku pikir itu nama sebuah gereja kuno ditengah hutan, atau nama binatang aneh semacam serangga. Aku belum pernah membacanya di peta. Apa mungkin google lupa memasukan daerah ini di google maps nya, atau paman google menganggap nya tidak penting sehingga menulisnya dengan kecil, sehingga aku terlewat ketika membacanya. Ah lupakan sajalah.

Banyak penumpang baru yang naik. Kereta pun mulai terisi penuh. Obrolan yang ku dengar pun sudah mulai berbeda bahasa. Sudah jarang lagi ku dengar seorang ibu yang memarahi anak nya dengan sumpah serapah khas sunda Baduy. Dan tak kudengar lagi di kursi belakang seorang pemuda yang merayu perempuan dengan bahasa Gunung Halu nya. Sekarang yang sering ku dengar adalah bahasa asing yang tak aku mengerti. Bahasa jawa ngapak, bahasa yang aneh.

Tibalah di stasiun pemberhentian berikutnya, masih ada penumpang yang naik dan turun. Bukan hanya penumpang, sekarang yang naik bertambah lagi, mereka tak di undang, tak pula memiliki tiket, mereka juga tak punya niatan untuk bepergian jauh seperti kami --- para penumpang --- yang punya tujuan jelas. Lantas untuk apa mereka naik? Ya, mereka adalah businessman dan para musisi. Mereka berdagang dan mengamen di kereta ini. Kadang, dan sering nya mengganggu kami. Namun kadang juga mereka menolong kami. Mereka menjual makanan, sering menjadi solusi ketika kami kelaparan. Tapi sering pula kami terganggu, nyanyian sumbang musisi itu, membangunkan kami ketika sedang istirahat. Terutama, pedagang dan pengamen yang selalu memaksa, cukuplah membuat keadaan tak nyaman. Ditambah jumlah mereka yang banyak, membuat kereta penuh sesak, panas, walau ber-AC. Kembali, petinggi negeri ini mengecewakan ku, terutama yang mengurusi bidang transportasi masal seperti kereta. Mereka mengingkarinya lagi. Di televisi mereka berteriak-teriak kereta kelas apapun bebas dari pedagang. Namun disini, kembali, mereka lupa dengan janji nya. Pedagang jenis apapun bisa bebas naik turun sekehandak nya. Tak ada yang melarang. Tak ada yang berani melarang lebih tepat nya. Padahal jumlah petugas didalam kereta begitu banyak. Pengkhianatan kedua: masih ada pedagang dan pengamen bebas naik turun.

Jauh sekali sudah kutinggalkan kota ku. Perjalanan sejauh 1.177KM untuk membelah tiga perempat pulau Jawa, lalu menyeberangi lautan untuk kemudian tiba di tanah yang telah dijanjikan mimpi-mimpi, untuk menemui orang-orang yang telah dijanjikan mimpi-mimpi. Perlahan, aku menemukan potongan mozaik ku yang tercecer. Kurangkai, aku susun untuk membuat sebuah gambaran yang sempurna. Aku kembali menemukan keindahan jiwa ku sebagai penikmat petualang, penjelajah keindahan dan pencari tantangan. Aku akan terus melakukan apa yang tidak banyak orang lakukan, untuk kembali menemukan jalan hidup yang baru, untuk menemui janji-janji yang telah diceritakan dalam mimpi-mimpi ku, untuk menemui kenyataan dan untuk kembali membuat mimpi-mimpi baru ku.

Sudah hampir setengah dari perjalanan ku. Sesuai aturannya, aku akan sampai di Surabaya pada pukul 19:55 dan kemudian kembali menyambung dengan kereta lain nya yang berangkat pukul 22:00 untuk bisa sampai di ujung pulau ini. Namun, waktu sudah terlalu sore, tapi perjalanan ku masih berada di pertengahan pulau ini. Aku mulai panik, kalau-kalau kereta tidak sampai sesuai jadwal. Atau kalau-kalau kereta terlambat lebih dari dua jam. Aku mencoba tenang, masih banyak waktu, walau kereta berjalan semakin tidak pasti. Namun, nampaknya mimpi buruk itu semakin nyata, kereta berhenti di tengah sawah. Menunggu kereta lain lewat dulu mungkin. Tapi sudah setengah jam lebih kereta berhenti. Aku semakin kesal, sekarang sudah pukul 18:00, tapi sampai Madiun pun belum. Sekarang sudah terlambat 3 jam dari jadwal. Aku benar-benar panik, dan tidak bisa perpikir jernih lagi.

Kembali, aku mencoba tenang. Aku tahu perjalanan selama 14 jam 25 menit sudah tidak realistis lagi. Aku mencoba mencari informasi sana-sini: bertanya sama penumpang lain, mencoba berdebat dengan kondektur, hingga turun dari kereta untuk berbicara dengan petugas stasiun saat kereta berhenti. Namun, semua yang kudengar sungguh mengecewakan.

Saat aku mulai pasrah, tiba-tiba sang kondektur kereta menghampiri. Petugas pemeriksa tiket ini memberikan sedikit harapan. Dia berkata “saya sudah berbicara dengan masinis kereta Mutiara Timur lewat pesan singkat. Katanya, dia akan menunggu bila penumpang yang sambung kereta cukup banyak, dan apabila kereta ini terlambat nya tidak terlalu lama”.

Semakin mengambang saja aku dibuatnya. Sekarang pikiranku terbagi dua: antara harapan dan kekecewaan. Karena penumpang yang akan sambung kereta jelas jumlahnya tidak cukup logis untuk ditunggu. Dan lamanya keterlambatan, aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan sampai. Tapi aku harus berpikir positif, aku kemas semua barang-barang ku yang masih tercecer. Aku masukan semua kedalam tas ransel ku. Ku gendong tas ku, aku berjalan menuju pintu keluar, aku tunggu kereta sampai berhenti disitu.

Kereta terus melaju kencang. Aku tidak tahu berapa lama lagi kereta akan sampai. Penumpang lain pun ikut bergerombol menuju pintu keluar. Kereta mulai mengurangi kecepatan nya, sepertinya sudah semakin dekat. Harapanku masih melambung. Aku berharap kereta Mutiara Timur mau menunggu ku, walau aku sadar betul, aku sudah terlambat terlalu lama.

“Masih kusimpan asa, masih aku percayai kebaikan hati para pejabat tinggi perusaan kereta ini, aku masih berharap belas kasih dari bapak masinis di depan, agar sudi kiranya menunggu ku, menunggu kami sebelum kalian berangkat.” Kalimat itulah yang ingin aku sampaikan saat ini kepada sang pilot kereta yang mungkin masih menunggu ku disana, atau mungkin telah meninggalkan ku disini.

Kereta pun tiba di stasiun akhir. 22:36 waktu yang aku lihat pada digital layar ponsel ku. Aku langsung melompat dari kereta. Berlari kearah yang tidak aku ketahui dengan tas ransel yang berat di pundak ku. Aku mencari di semua sudut di stasiun ini. Aku mencari di semua jalur kereta. Tapi, tak kulihat satu gerbong kereta pun disini. Sungguh aku sangat kecewa.

Aku menghampiri seorang petugas yang tengah berdiri diujung stasiun. Aku bertanya kepadanya. Dia pun menjawab dengan suara yang berat. “Kereta sudah berangkat tepat pukul 22:00”.

Kembali, aku dikecewakan oleh sistem yang dianut oleh perusahaan ini. Kumpulan orang-orang pintar yang mengurusi perusahaan milik negara ini lagi-lagi membuatku patah hati. Sekarang, disini, ditempat yang gelap ini, aku hancur dibuat olehnya. Rencana matang ku yang sungguh sangat realistis, yang sudah aku persiapkan sejak 71 hari yang lalu, kini, hancur terkhianati oleh mereka, dalam hitungan menit. Sungguh, mereka kejam terhadapku. Tidak pernah mengerti keadaan ku. Tidak pernah menghormatiku sebagai seorang yang harus diagungkan hak-haknya.

Mereka, sungguh sangat keliru  dalam mengelola perusahaan ini. Mereka tidak pernah mau mempelajari tentang perkiraan keterlambatan kereta. Mereka hanya mempromosikan tentang kelebihan-kelebihan nya saja: kendaraan ber-AC, tarif murah, pemesanan tiket secara online. Tapi mereka menutup mata tentang semua kekurangannya. Dimana mereka belajar menejemen perusahaan ini? Haruskah aku yang mengajari nya! Dan dengan sangat kecewa ingin sekali lagi aku katakan. Pengkhiatan ketiga: kereta selalu saja datang terlambat.

Aku keluar dari stasiun. Kini, aku terjebak di negeri antah berantah, malam hari, tanpa sanak saudara disini, tak ada yang aku kenal. Aku mengenal Surabaya hanya dari namanya saja. Aku tak tahu jalanan disini, kebiasaan masyarakatnya, dan aku pun tidak tahu kehidupan malam nya. Aku lapar, aku cape, aku lelah, aku ingin tidur. Tapi dimana, dimana aku bisa tidur? Aku tidak ingin tumbang disini, aku tidak ingin mati konyol disini.

Aku harus bisa berpikir baik. Dan sesegera mungkin keluar dari kota ini untuk melanjutkan perjalanan. Itu adalah solusi. Pilihannya hanya ada dua: menunggu besok pagi untuk naik kereta pagi atau mencari bus agar aku segera sampai di Banyuwangi. Dan pilihan kedua adalah logis.

Aku mencari warung makan dulu untuk mengisi perut. Karena sedari siang belum ada makanan yang masuk kedalam perut ku. Tidak susah mencari warung makanan pada malam hari disini, yang susah hanya warung makanan yang menjual nasi. Setelah berputar sana-sini, akhirnya aku bertemu juga dengan pedagang yang menjual nasi. Tidak banyak macam makanan yang dia jual. Hanya nasi putih dan ayam penyet. Pernah aku mendengar nama ‘ayam penyet’ disebuah restoran di Bandung. Namun aku belum pernah merasakan rasanya seperti apa. Tertarik juga aku untuk mencobanya. Namun, ternyata setelah aku santap dengan lahap karena lapar, rasanya, sungguh, seperti memakan asing dari luar planet sana, rasanya sungguh tidak aku sukai. Ayam ini seperti digoreng tanpa bumbu. Dan sambal ini, seperti tidak dikasih garam. Apakah ini makanan khas negeri Jawa Timur itu? Apakah mereka tidak bisa membuat bumbu? Atau apakah disini tidak ada bumbu?

Akhirnya aku dapat informasi yang cukup berharga dari bapak penjual nasi aneh ini. Setelah selesai makan, dari bapak ini aku tahu bahwa untuk menuju semua luar kota dari Surabaya dengan menggunakan bus, kita harus pergi dulu ke ‘terminal Bungur Asih’. Karena dari sana semua bus berkumpul. Bungur Asih adalah tempat selanjutnya yang harus aku temui setelah warung nasi ini. Itu adalah tempat paling logis untuk saat ini. Sebelum aku meninggalkan warung, si bapak sempat memberikan pesan kepadaku, “hati-hati” ucapnya.

Aku cepat-cepat bergegas untuk menemui terminal Bungur Asih. Untuk dapat sampai kesana aku harus dua kali naik angkutan kota. Masih ingat jelas pesan terakhir dari sang bapak penjual nasi aneh tadi, ‘hati-hati’ katanya. Ya, pikirku, memang harus hati-hati, karena ini sudah sangat larut, dan aku tidak mengenal kota ini. Aku tidak boleh baik kepada sembarang orang disini, mereka bisa berbuat hal yang dapat merugikan ku.

Sampai pula akhirnya aku di terminal Bungur Asih. Sepertinya ini sudah masuk wilayah Sidoarjo perkiraan ku. Sungguh megah terminal ini. Ini adalah terminal bus termegah yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Aku pernah kesemua terminal bus di Jakarta, dan aku juga pernah kesemua terminal bus yang ada di Bandung. Menurutku, itu adalah dua kota paling metropolis yang ada di negeri ini. Tapi, di dua kota itu tidak ada terminal yang semegah terminal yang kulihat saat ini. Tempat yang bersih, fasilitas yang lengkap, jumlah moda transportasi yang banyak, area yang luas, dan bangunan yang cukup mewah untuk sekelas terminal bus. Bungur Asih, engkau sungguh memberikan kesan yang indah dalam perjalanan malam ku.

Setelah memutari hampir seluruh bagian stasiun, akhirnya aku naik bus. Aku duduk dibarisan kedua dari belakang. Bus AC jurusan Surabaya – Banyuwangi ini mungkin akan memakan waktu sekitar 9 atau 10 jam untuk sampai di tujuan. Waktu yang cukup lama. Setelah aku duduk, aku melihat penutup pentilasi pendingin di kursi ku rusak, dan sebrotan AC tepat meniup wajah ku. Aku bisa mati kedinginan kalau begini caranya. Aku tidak bisa pindah ketempat lain, karena semua kursi sudah terisi penuh. Tak habis akal, aku tutup saja wajah ku dengan sapu tangan handuk yang tebal, dan itu cukup membuat kepala ku hangat. Dan pikiran ku semakin tenang ketika bus sudah mulai jalan. Ingin aku akhiri petualangan malam ku disini. Aku ingin tidur nyenyak setelah ini. Agar besok aku punya cukup energi untuk melanjutkan perjalanan.

Bus mulai melaju dengan kencang, dan aku sudah tidak sadar ketika bus sudah masuk jalan tol. Kadang aku tersadar oleh teriakan kondektur saat berkomunikasi dengan supir. Aku juga kadang terbangun hanya untuk merubah posisi tidurku. Tapi, aku tidak betul-betul sadar. Hanya sedikit terjaga saja. Penumpang dalam bus tidak semua bertujuan ke Banyuwangi. Ada yang hanya sampai Jember, atau kota-kota lainnya di Jawa Timur. Jadi, ketika bus sampai di suatu kota baru, sang kondektur selalu berteriak untuk mengingatkan penumpang. Tapi karena tujuan ku adalah tujuan akhir bus ini, maka tak pernah aku hiraukan teriakannya.

Aku baru terbangun pada pukul 06:00, itu pun karena dibangunkan sang kondektur. Saat itu bus baru sampai kota Jember. Masih jauh untuk tujuan ku yaitu Banyuwangi. Aku juga tidak tahu, kenapa dia membangunkan ku. Padahal ketika aku memabayar karcis tadi, dia sudah tahu tujuan ku adalah Banyuwangi. Ah, kondektur yang aneh. Penumpang didalam bus sudah tidak penuh lagi. Sudah tinggal kurang dari sepertiganya lagi. Kemudian bus kembali jalan, namun tidak jauh. Ketika sampai terminal Jember, bus pun berhenti. Lalu kondektur berkata pada para penumpang “mohon semuanya pindah bus ya. Supir nya ngantuk. Tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan.”

Ada apalagi ini, ucapku dalam hati. Sudah ketinggalan kereta, susah cari bus, sekarang malah diturunin ditengah perjalanan. Huft. Akupun turun dari bus, kemudian naik bus baru yang ditunjukkan kondektur tadi. Sungguh sial. Semalam aku bayar bus dengan tarif eksekutif, sekarang aku dipindahkan secara sepihak menuju bus yang ekonomi. Tidak usah bayar ongkos lagi cetusnya.
Bus ini sungguh tidak nyaman. Karena tidak ada AC, tempat duduk yang keras, dan jarak bangku yang sempit. Tapi aku harus mensyukurinya, karena aku masih bisa melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang panjang, masih 3 sampai 4 jam lagi untuk mencapai Banyuwangi. 

Kembali, aku menikmati perjalanan. Karena jalan yang dilalui adalah pegunungan, jalur yang berkelok, tikungan tajam, dan tanjakan yang panjang. Gunung Gumitir, inilah nama daerahnya. Pohon-pohonnya tinggi, hutannya lebat, tapi ruas jalannya begitu sempit. Menakutkan, karena pengendara yang mau melewati jalur ini haruslah yang sudah lihai betul berkendara. Bukan hanya lihai dalam berkendara, namun orang yang melewati jalur ini harus benar-benar menguasai treknya. Inilah jalur yang paling berbahaya yang pernah aku lewati. Bahkan ini lebih menakutkan dibanding jalur antara kota Garut dan Pameungpeuk. Dulu, dijalur Garut Pameungpeuk itu, aku pernah jatuh dari kendaraan, dan membuatku trauma cukup lama dalam berkendara. Gunung gelap nama daerahnya. Selain jalanan yang berkelok, pohon-pohon raksasa di sepanjang jalan yang mengahalangi cahaya matahari masuk, disana sering juga turun kabut. Makanya nama daerahnya disebut Gunung Gelap, karena walau siang hari, disana masih saja gelap. Tapi disini, di Gunung Gumitir ini, aku melihatnya lebih menakutkan. Dan yang lebih menakutkan, aku melihat pemandangan mistis disini. Disepanjang perjalanan, aku melihat selalu saja ada ibu-ibu yang berdiri sambil melambai-lambaikan tangannya kepada setiap pengendara di tiap tikungannya. Pertamanya aku berpikir itu adalah penumpang yang menunggu angkutan umum, dan sedang mencoba memberhentikan bus ini. Namun, keadaan itu semakin janggal karena tidak ada satu kendaraan umum pun yang berhenti. Lambaian tangan itu, mereka gerakkan secara statis, dengan tempo yang sama, dan terus tanpa henti. Mungkin mereka sedang melakukan efek magis. Bukan hanya ibu-ibu, diantara mereka ada juga yang berusia renta, dan ada juga yang menggendong bayi. Sungguh membuatku heran dengan yang mereka lakukan.

Bus mulai melalui jalanan yang datar, walau masih berkelok. Aku melihat keluar jendela. Ada lembah yang cukup dalam yang dipenuhi rimbunnya pohon. Tapi, yang membuatku tertarik adalah, di lembah itu ada jalur kereta api. Harusnya, aku sudah sampai di Banyuwangi, di ujung paling timur pulau ini sejak dini hari tadi. Andai saja aku tidak ketinggalan kereta, sudah aku hirup udara Bali siang ini.

‘Selamat Datang di Kota Banyuwangi.’ Tulisan itu yang aku baca ketika sudah masuk kota Banyuwangi. Inilah jalanan kota Banyuwangi: ramai, panas, namun masih asri. Kesan yang ditimbulkan dari kota ini mengingatkan aku terhadap kota Garut. Mungkin karena tata kotanya yang mirip. Toko-toko yang berderet disepanjang jalan, sekolah-sekolahnya, sifat preman-premannya yang kampungan, hingga kantor bupatinya begitu mirip. Aku ingin menjuluki kota ini sebagai Garut nya Jawa Timur.

Aku pindah duduk ke kursi paling depan. Penumpang sudah kosong dikursi depan, hanya di bus bagian belakang yang masih banyak penumpang. Karena penumpang sudah banyak yang mulai turun sejak dari tadi. Ketika aku mengangkat tas ku, ada hal yang ganjil yang kulihat. Resleting utama, kenapa resleting nya ada ditengah dua-duanya? Kebiasaan ku, apabila menutup resleting tas, aku selalu tutup sampai pinggir. Dan saku tasnya, kenapa terbuka setengahnya? Perasaan ku mulai tidak enak. Aku mulai cek isi tas ransel ku. Oh tidaaaakkk, Power bank yang baru aku beli, handphone klasik ku, uang, dua kabel USB, earphone, tas kecil, parfum La for Man, kacamata hitam dan barang lainnya yang tidak aku ingat, semuanya tidak ada, semuanya hilang. Sungguh, seorang perampok yang halus benar-banar telah membuatku murka. Tidak tahukah dia, aku ini sedang sial karena telah ketinggalan kereta? Aku ini sudah merencanakan perjalanan ini sejak lama, mengapa dia tega merusaknya hanya dalam hitungan cepat. Tidak tahukah dia, aku ini sampai menahan buang air besar sejak dari rumah karena ingin segera cepat sampai. Mengapa, mengapa kau tega lakukan itu padaku? Mengapa kau tega mengambil barang-barang yang aku persiapkan untuk liburanku yang mengasyikan ini. Sungguh, kau telah merusak mood-ku, membuat hati ku kecewa, membuat ku murka. Aku ingin marah, aku ingin membunuh perampok sialan itu, aku ingin membuatnya babak belur. Tapi siapa? Kepada siapa aku harus marah? Tidak tahukah dia, apa yang dia lakukan bisa membuat ku celaka. Bisa membuatku terjebak disini, di negeri antah berantah, ditempat yang sangat dan teramat jauh dari rumah ku.

Aku hanya bisa sabar saja. Menerima semua yang telah terjadi terhadap ku dengan ikhlas. Aku ingat, saat makan di Surabaya semalam, bapak penjual nasi aneh itu berulang kali mengingatkan aku untuk hati-hati. Dan aku juga mulai sadar, mungkin, saat kondektur bus tadi membangunkan ku di kota Jember, dia ingin menyadarkan aku bahwa aku telah habis dirampok. Aku yang kurang peka terhadap tanda-tanda ini. Aku yang tidak bisa membaca isyarat yang ditunjukkan lingkunganku untukku. Mungkin, saat aku kebingungan mencari bus di Terminal Bungur Asih, saat itulah para perampok itu telah mengincarku. Aku lesu, semangat ku hancur, bahkan lebih hancur dari saat aku ketinggalan kereta kemarin. Harapan ku untuk bisa betul-betul menikmati perjalanan yang mengasyikan kini ternoda karena perampok sialan itu. Sungguh, mereka cukup berhasil membuat suasana liburanku berantakan. Terlebih untuk saat ini. Pelajaran moral nomor satu: jangan pernah tidur disamping perampok.

Kini, bus telah sampai di terminal Banyuwangi. Nama terminalnya adalah terminal Karang Ente. Dan aku tidak tahu, masih berapa jauh lagi untuk menuju pelabuhan Katapang. Dan aku juga tidak tahu, moda transportasi apa yang bisa aku pake untuk bisa sampai disana. Ketika aku turun dari bus, aku seperti berada disebuah stadion sepak bola yang sangat besar. Banyak penonton disana, semua seperti memperhatikan aku. Bahkan, hanya untuk jalan beberapa langkah saja, aku begitu gugup, lebih gugup dari para model yang sedang berjalan diatas catwalk. Karena, semua orang di terminal itu seperti memperhatikan aku. Aku berada ditempat yang asing bagiku. Dan aku bingung dengan tujuan ku. Aku begitu takut, orang-orang melihat semua bawaanku, terutama tas ranselku. Aku peluk erat tas ku. Kemudian, seorang tukang becak datang, dia menawariku, lalu tidak lama berselang, supir angkot datang, dia juga menawariku. Banyak calo-calo. Mereka semua berteriak-teriak saling memperebutkan aku untuk jadi penumpang nya. Mereka semua kampungan. Mereka berhasil mengintimidasiku. Aku benar-benar begitu takut, teramat takut.

Akhirnya aku putuskan untuk naik angkot saja. Begitu sepi angkot yang aku naiki. Di kaca angkot pun tidak ada tulisan jurusan angkotnya. Ini semakin membuatku takut. Aku takut dibawa keliling ketempat jauh yang bukan tujuan ku, lalu ketika sampai di tujuan ku, aku diminta ongkos yang besar. Apalagi diangkot ini tidak ada orang lain lagi. Aku memeluk erat tas ku. Aku tidak ingin kejadian konyol menimpa ku lagi.

Tapi dugaan ku keliru. Ketika angkot sudah jalan, aku mulai berbincang dengan sang supir. Dia menjawab ku dengan halus. Dengan tidak ada keberatan. Sangat ramah, begitu supel, enak diajak bicara. Ternyata mereka kasar dan menakutkan hanya ketika di terminal saja. Mereka saling berantem hanya dengan calo yang lain, tapi tidak bersikap kasar terhadap penumpang, terutama penumpang asing.

Akhirnya aku tiba juga di Ketapang. Sebuah mesjid besar menjadi tempat ku untuk istirahat sejenak. Aku mulai melupakan kejadiaan buruk yang menimpa ku kemarin malam. Aku harus menikmati sisa perjalanan ku yang mengasyikan ini. Aku cuci muka dulu, gosok gigi, dan melakukan apa yang tidak bisa namun ingin aku lakukan selama perjalanan panjang yang melelahkan sejak dari kemarin. Aku Sholat Dzuhur dan Ashar dulu disana, dengan di qashar --- Menyatukan dua waktu shalat seperti dzuhur dan ashar dalam satu waktu, dan mengurangi jumlah raka’atnya menjadi dua raka’at dalam setiap waktunya. Ini adalah rukhshoh atau keringanan bagi yang sedang bepergian jauh.

Setelah shalat, aku duduk-duduk untuk melepas lelah di halaman mesjid.  Bangunan mesjid ini lebih tinggi dari jalan. Dan ruang utamanya berada di lantai dua. Jadi, aku bisa dengan enak melihat pemandangan, tanpa ada penghalang. Tepat di seberang jalan mesjid ini berdiri sebuah pelabuhan besar yang mewah. Dan diseberang lautan sana, aku melihat daratan yang hijau. Pulau itulah tujuan ku. Itulah tanah-tanah yang telah dijanjikan oleh mimpi-mimpi. Disanalah aku akan menemui orang-orang yang telah dijanjikan mimpi-mimpi. Aku, sekarang telah membelah tiga perempat pulau Jawa ini dengan sebuah perjalanan yang sangat mengesankan. Inilah perjalanan paling prestisius yang pernah aku lakukan. Disini, diujung paling timur pulau yang paling aku cintai ini, aku, untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, akan meninggalkan pulau ini dengan segala kenangan nya. Aku akan menemui mimpi-mimpi itu. Pulau Bali, pulau dengan segala keindahan nya, aku akan menemui mu sekarang. Tepat didepan mataku, di pelabuhan itu, aku akan menggoreskan cerita baru dalam hidupku tentang perjalananku. Dan tepat, didepan mataku, di pulau yang hijau itu, petualangan baru ku akan dimulai.

Aku mulai memasuki gedung pelabuhan. Ketapang nama pelabuhan ini. Aku memasuki lorong peron pemeriksaan tiket setelah tadi aku membelinya. Disanalah kapal peri itu sedang menungguku, menyambutku ditengah birunya air laut yang eksotis. Disejauh mata memandang itulah pulau impian itu berada. Aku memasuki kapal yang yang sudah hampir penuh. Aku langsung naik kelantai dua. Banyak bule-bule disini. Aku memandangi lautan yang tak berujung disepanjang mataku memandang. Aku memandangi pertemuan daratan dan lautan yang menakjubkan, yang menghilangkan dahaga mataku. Tempat inilah yang diberi nama Selat Bali itu.
Selat Bali
Kapal perry mulai berjalan. Inilah pertamakalinya aku menyeberangi lautan, inilah fase baru dalam hidupku, dan inilah yang disebut dengan sejarah. Sekarang, aku berada ditengah lautan luas, untuk menyeberangi dua pulau yang berbeda.

Kapal Perry Katapang-Gilimanuk

Selat Bali

Kapal Perry Selat Bali

Selat Bali


Kapal perry mulai merapat ke dermaga. Inilah pelabuhan Gilimanuk itu. Aku turun dari kapal, keluar menuju dermaga. Pukul 13:18 WIB atau pukul 14:18 WITA untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di pulau ini. Dan untuk pertama kalinya juga aku berada diluar pulau Jawa. Inilah perjalanan terjauhku sepanjang hidupku. Dan Bali adalah pulau pertama yang aku datangi. Karena pulau ini adalah pulau impian banyak orang didunia. Hari ini, 11 Agustus 2013 pukul 14:18 WITA aku menuliskan dengan tinta sejarah baru dalam buku cerita hidupku tentang petualanganku yang menakjubkan.

Aku keluar dari pelabuhan, kemudian menyeberang jalan dan masuk menuju terminal. Tidak jauh jarak antara pelabuhan dan terminal bus ini. Hanya 5 menit berjalan kaki. Tujuanku sekarang adalah Denpasar, ibukota Provinsi pulau ini. 134KM adalah jarak darat yang akan aku tempuh dengan 4-5 jam perjalanan dengan kendaraan umum. Didalam terminal aku mencari bus yang menuju kota Denpasar. Disini, tidak ada bus-bus besar seperti di Jawa. Moda transportasi antar kota nya adalah bus kecil yang di Jawa Barat sering disebut Elf. Bus kecil inilah yang akan mengantarkan aku menuju Denpasar.

Lalu aku naik kedalam bus. Aku pilih kursi paling depan agar dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Bus mulai berjalan, menyusuri sepanjang pantai selatan pulau Bali. Jalannya kecil dan tidak terlalu banyak berkelok, lurus terus mengikuti alur pantai disebelah kanan jalan. Dikanan-kiri jalan banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang rindang daunnya. Kadang, daunnya tersusun rapi menutup langit laksana sebuah atap yang sengaja dibangun rapi untuk menutupi jalan ini. Cahaya matahari seperti malu-malu masuk menerobos diantara sela-sela dedaunan yang rimbun.

Jalan Gilimanuk-Denpasar

Jalan Gilimanuk-Denpasar

Kemudian aku lihat padang rumput yang luas. Disana dibiarkan sapi-sapi berwarna coklat hidup liar. Tak ada penggembala, tak ada kandang. Mungkin ini adalah adat daerah sini. Aku pernah mendengar cerita sapi yang dibiarkan hidup liar ditengah kota, di India. Mereka menganggap sapi sebagai hewan keramat. Bahkan disana, air kencing sapi dijadikan sebagai air suci. Mungkin karena persamaan adat dan agama antara India dan Bali, disini, sapi juga dianggap keramat.

Disebelah kanan jalan ada pemandangan yang indah, sebuah laut dengan garis pantai yang sangat panjang. Sepanjang jalanan ini. Ombak-ombak disana adalah ombak-ombak besar khas pantai selatan di pulau Jawa. Karena disana Samudera Hindia berada. Sebuah lautan lepas yang terasa tak berujung. Sebab, jika kita berenang atau berlayar dari pulau ini lurus terus menuju arah ke selatan, kita tidak akan pernah menemukan lagi daratan hingga kita temui kutub selatan dari Bumi ini. Bentuk jalanan yang seperti ini biasa aku lihat di televisi ketika menyiarkan tempat-tempat di daerah Eropa sana. Ketika air sedang pasang dan ombak sedang besar, kadang cipratan dari ombaknya bisa sampai jalan. Dan, apabila matahari sedang terik, pelangi-pelangi kecil selalu muncul setelah ombak pecah ditahan beton penyangga jalan.

Akhirnya perjalananku sampai di terminal Ubung, setelah menempuh 5 jam perjalanan darat dari pelabuhan Gilimanuk. Terminal Ubung adalah terminal besar ditengah kota Denpasar. Denpasar inilah tempat di indonesia yang paling banyak dikenal orang di dunia. Dan tempat ini juga yang paling banyak dikunjungi oleh mereka. Setelah turun dari bus, kemudian aku mencari penginapan untuk mengistirahatkan badanku yang sudah terlalu lelah menempuh panjangnya perjalanan.

Kesan pertama yang aku dapat dari tempat ini adalah tentang kebiasaan masyarakat sini. Sebagai seorang muslim, aku tak biasa melihat hal seperti ini. Disini kesyirikan begitu tampak. Ada begitu banyak macam patung disini: patung manusia, hewan, dan banyak jenis patung lainnya. Begitu banyak jumlahnya, dan besar-besar. Hampir disetiap tempat ada. Mungkin, simbol inilah yang mereka anggap sebagai tuhan. Dan, disepanjang trotoar jalan, didepan rumah-rumah warga, aku melihat banyak sesajen yang dihidangkan. Dibungkus dengan daun janur yang dianyam menyerupai misting makanan. Didalamnya ada berbagai macam makanan sehari-hari manusia. Kadang, ada juga air kopi yang sudah diseduh, sebatang rokok, dan selalu ditaburi bunga. Hal lainnya yang begitu asing bagiku, hampir disemua tempat, aku mencium bau dupa yang dibakar. Begitu menyengat baunya. Selain itu semua, disini kita tidak mudah menemukan warung makanan yang halal. Kita harus selektif ketika mau makan. Biasanya, para penjual makanan muslim selalu menuliskan di label brand mereka dengan tulisan “halal” atau tulisan “warung makan muslim”. Biasanya para penjual makanan muslim adalah transmigran dari pulau Jawa.

Sebuah hotel melati ditengah kota Denpasar akan menjadi penginapanku empat hari kedepan. Aku memilih ditengah kota agar mudah bepergian kemana-mana. Karena, biasanya tengah kota itu tempatnya strategis. Walaupun awalnya aku merencanakan menginap didaerah yang lebih dekat dengan pantai. Harga sewa hotel ini permalam relatif murah, bila mengingat sekarang adalah musim liburan. Tapi memang, fasilitas yang ditawarkan kurang memuaskan. Hanya kasur spring bed, lemari kaca, kamar mandi, dan kipas angin saja. Tidak ada Televisi, ataupun AC. Tapi tempatnya cukup nyaman. Namun karena tempatnya tepat berada di jalan utama kota Denpasar, suara bising kendaraan tidak pernah berhenti, bahkan sampai larut malam sekalipun. Tapi aku menikmatinya.

Setelah selesai mandi, aku bongkar bawaan ku didalam tas, kemudian aku tata diatas lemari. Aku set waktu di jam tangan ku menjadi Waktu Indonesia Tengah. Agar memudahkan aku dalam beradaptasi dengan perbedaan waktu. Aku coba cari informasi tentang tempat-tempat wisata disini dengan bertanya pada orang-orang, membaca panduan wisata, hingga browsing internet supaya memudahkan ku ketika mengunjungi suatu tempat.

***

Senin pagi, 12 Agustus 2013, Aku begitu bersemangat menyambut hari ini. Karena, hari ini aku akan menjelajahi pulau ini. Aku akan berkeliling mendatangi tempat-tempat yang ingin aku datangi. Kini, tempat-tempat yang telah dijanjikan mimpi-mimpi itu telah berada dihadapanku. Pulau inilah yang telah aku mimpikan untuk aku datangi. Dan tempat ini pula yang banyak orang mimpikan. Dan aku disini, perlahan, telah menemui tempat-tempat yang telah dijanjikan mimpi-mimpi itu. Disini, aku bangga menjadi bagian dari orang-orang yang selalu berusaha untuk menemui mimpi-mimpi itu.

Aku butuh kendaraan pribadi untuk berkeliling di pulau ini. Karena, kalau aku mengandalkan kendaraan umum, secara waktu dan biaya mungkin tidak efisien. Dan motor adalah kendaraan paling logis yang bisa aku sewa. Ternyata, ditengah kota Denpasar tidak sulit untuk mencari tempat penyewaan kendaraan bermotor. Disini, kita mudah menjumpai tempat rental motor. Harga sewanya juga tidak terlalu mahal. Hanya dengan membayar Rp 60.000, motor itu bisa jadi milik kita selama 24 jam, bebas kita pakai kemana saja semau kita. Dan syaratnya juga benar-benar tidak rumit, sangat mudah, hanya dengan menjaminkan KTP saja.

Pantai Kuta adalah tempat yang aku datangi pertama kali. Jaraknya kurang lebih 30 menit perjalanan motor dari pusat kota. Jalanan didaerah Kuta mirip dengan jalan Braga di Bandung sana. Banyak tempat hiburan, tempat makan, hotel-hotel, dan outlet pakaian. Ini adalah tempat wisata paling populer dan paling ramai dikunjungi di Bali. Baik oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal. Ditempat inilah pada tanggal 12 oktober 2002 sebuah tragedi dahsyat terjadi. Dua bom meledak di Paddy’s Pub dan Sari Club di jalan Legian, Kuta.  Kejadian itu cukup menggemparkan dunia, terutama Indonesia. Sebab, tragedi tersebut menewaskan kurang lebih 202 orang korban meninggal. Sebagian besar adalah turis asing yang sedang menikmati liburannya ditempat ini. Sekarang ditempat ini dibangun sebuah monumen yang dikenal dengan nama Monumen Bom Bali atau Monumen Ground Zero. Di dinding monumen ditulis nama-nama ratusan korban yang meninggal.

Monumen Bom Bali
Monumen Bom Bali

Masuk pantai Kuta tidak dipungut biaya sama sekali. Berbeda dengan pantai-pantai di pulau Jawa sana yang memasang tarif masuk, disini semua orang bisa bebas menikmati suasana alam pantai tanpa harus bayar sepeser pun. Pantai Kuta adalah pantai yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pasirnya berwarna coklat, hampir murni berbentuk pasir tanpa campuran pecahan batu karang. Pantai ini menghadap kearah barat, dengan demikian dipantai ini kita bisa menikmati sunset atau proses tenggelamnya matahari saat sore tiba. Disebelah kiri pantai terlihat dekat, membujur kearah pantai seperti tanjung, sebuah bandar udara, Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Dari tempat ini kita bisa menikmati pemandangan pesawat yang sedang take off dan landing. Pantai ini cukup bersih dari sampah-sampah, karena disini ada petugas khusus kebersihan pantai Kuta. Tinggi ombaknya sedang, khas samudera Hindia. Cukup aman untuk berenang sampai 100 meter dari bibir pantai. Selain untuk berenang, berjemur dan berselancar pantai ini sangat cocok untuk menikmati hari dalam menghabiskan waktu bersantai dibawah pepohonan.

Pantai Kuta

Moe Korong

Setelah puas menikmati pagi di pantai Kuta, kemudian aku pergi ketempat lainnya yang mahsyur dikata orang. Aku pergi kemana hati ini ingin pergi. Tanpa ada tujuan yang jelas. Yang penting sampai ditempat yang indah. Aku pergi kemanapun jalan ini mengarahkan ku. Hingga tiba disebuah jalan yang sempit dan sepi. Kanan dan kiri jalan adalah kebun yang luas, atau lebih tepat bila aku menyebutnya sebagai hutan. Udaranya masih harum tanpa terpengaruh bau polusi kota. Kadang tampak sapi-sapi liar. Tak ada pemukiman sama sekali, dan jarang sekali terjamah manusia. Itu terlihat dari ranting-ranting dan daun-daun pohon yang menutupi sebagian jalan. Namun, walaupun begitu, jalanannya sudah sangat bagus dengan aspal yang tampak baru.

Akhirnya aku tiba diujung jalan. Sungguh menakjubkan apa yang aku temukan disini, sebuah pemandangan laut yang sangat sangat luar biasa. Aku melihat hamparan air laut yang begitu luasnya diatas ketinggian sebuah tebing. Yang tampak disini seperti hamparan padang air yang tak berujung. Tak ada penghalang antara tempatku berdiri hingga disejauh kemampuan mataku memandang. Inilah Samudera Hindia itu. Sebuah laut yang sebenarnya. Uluwatu, sebuah tempat yang begitu sangat menakjubkan. Sebuah ketinggian, dimana kita dapat melihat aktivitas peermukaan air laut yang sebenarnya. Sebuah keindahan yang begitu menakjubkan.

Disini aku bertemu dengan dua orang bule. Mereka tampak ramah dan begitu hangat sikapnya. Sepertinya kalau boleh aku tebak, mereka adalah suami-istri. Ketika tadi aku melintas dengan sepeda motorku sambil memotret disekitaran jalan, mereka mengagetkan ku dengan tiba-tiba muncul didepan jarak area fotoku dengan aksi jenakanya. Aku senang bisa bertemu dengan mereka. Mereka begitu akrab. Dan aku bisa berfoto dengan mereka ditempat yang indah ini. Uluwatu.

Bule-bule gila

Pantai Uluwatu

Memandang Samudera Hindia

Aku dan Bule-bule

Pantai Uluwatu Bali

 
Aku mencoba turun dari tebing menuju pantai. Namun, jalan setapak yang aku lewati begitu curam dan menyeramkan. Walaupun siang hari, tapi hawanya begitu angker. Pohon-pohonnya menutupi langit hingga cahaya matahari sulit masuk. Sepertinya hewan buas jenis apapun layak hidup disini. Sekarang, antara rasa takut dan ingin tahu bertarung didalam hati. Dengan pertimbangan dan perhitungan rumus kalkulasi untung-rugi, akhirnya aku putuskan untuk kembali keatas, dan membatalkan niatku menerobos belantara hutan. Dan aku harus melupakan rasa penasaranku melihat bentuk pantai belantara yang ada dibawah. Uluwatu.

Uluwatu

Tebing Uluwatu

Hutan Uluwatu

Lembah Uluwatu

Tebing Uluwatu


***

Dulu, aku pernah membuka internet, dan melihat gambar gunung batu kapur. Ada pahatan-pahatan buatan manusia disana. Tempatnya dekat dengan pantai. Begitu indah, seperti diluar negeri. Pada saat itu aku berjanji, jika aku ke Bali, aku harus ketempat ini. Setelah aku ada disini baru aku tahu namanya adalah Pandawa Beach. Posisinya tidak terlalu jauh dari Uluwatu. Hanya beberapa kilometer saja. Tempatnya tidak terlalu ramai, sedikit jauh dari jalan raya. Namun, aksesnya tidak susah, jalannya juga bagus. Pintu masuk tempat wisata ini dijaga oleh Pecalang, atau polisi adat Bali. Harga tiket masuknya hanya Rp 2.000 perorang untuk wisatawan domestik, dan Rp 1.000 untuk biaya parkir motor. Kontur tanahnya berbentuk tebing-tebing. Jarang aku lihat ada pohon hidup disini. Mungkin karena tanahnya adalah batu kapur, jadi tumbuhan tidak hidup disini. Pengunjung yang datang ketempat ini lebih banyak memilih untuk berfoto-foto daripada menikmati alamnya. Wajar saja, karena tebing batu kapur disini dipahat rata dan dibentuk sehingga tampak indah jika diabadikan dalam sebuah gambar. Diantara tebing-tebing itu juga dibuat banyak patung-patung dewa kepercayaan masyarakat sini. Patung-patung inilah yang menjadi Landmark Pandawa Beach.

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach


Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach


Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach


Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa beach

Pandawa beach

Pandawa Beach
Pasir pantai Pandawa Beach berwarna coklat, mirip dengan pasir pantai Kuta. Dipantainya dibangun kafe-kafe dan resto yang sederhana, namun terlihat high class. Orang-orang yang menghabiskan liburannya disini lebih banyak didominasi oleh turis asing. Ada juga wisatawan lokal yang berlibur kesini, tapi kebanyakan dari kelas menengah keatas. Mayoritas dari pengunjung Pandawa Beach menghabiskan waktu hanya untuk berenang dan berjemur.

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach

Pandawa Beach



Setelah puas berkeliling di Pandawa Beach, aku kembali ke hotel untuk beristirahat. Sebenarnya aku masih ingin berkeliling untuk menjelajah setiap destinasi wisata disini, namun, cuaca kota Denpasar hari ini begitu cerah, cenderung panas terik. Dilangit hampir tidak ada awan berkumpul. Jadi aku putuskan untuk kembali dulu ke hotel menunggu matahari sedikit redup. Rencananya sore hari aku ingin kembali ke Kuta untuk menikmati sunset.

***




Pantai Kuta sore ini jauh lebih ramai dari tadi pagi. Ya, karena pantai Kuta lebih indah dinikmati pada sore hari. Apalagi ketika langit benar-benar cerah sempurna seperti hari ini. Aktivitas para pengunjung pantai ini jauh lebih beragam dari pantai manapun di pulau Bali. Disini orang ada yang berenang, berjemur, duduk santai, joging, main voli, sepak bola, melatih hewan peliharaan, berselancar, hingga pacaran.

Kuta Beach
Pantai Kuta

Kuta Beach
Pantai Kuta

Kuta Beach
Pantai Kuta

Kuta Beach
Pantai Kuta

Kuta Beach
Pantai Kuta

Kuta Beach
Pantai Kuta



Sepertinya sunset sore ini tidak akan terlalu sempurna, karena awan sedang berkumpul tepat ditempat matahari akan menenggelamkan dirinya. Namun, sore ini adalah sunset yang paling hampir sempurna yang pernah aku saksikan.

 
Proses sunset di Kuta

Proses Sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta

Proses Sunset di Kuta

Proses sunset di Kuta



Inilah akhir dari petualanganku hari ini. Aku menikmati suasana pantai Kuta sampai malam hari.

***


 
Selasa pagi, 12 Agustus 2013. Aku kembali bersemangat menyambut hari. Kini, petualanganku akan dilanjutkan. Aku belum tahu tempat mana saja yang akan aku kunjungi. Aku berbincang sejenak dengan pemilik hotel, mencari rekomendasi destinasi tempat yang layak aku jelajahi. Dia menyebutkan beberapa tempat, namun aku masih buta dengan pulau ini. Tapi aku selalu mengikuti naluri kemana ingin pergi.

Ruang Lobby Hotel



Dengan memakai kostum klub sepakbola kebanggaanku, aku akan kembali memulai penjelajahan ini. Mengibarkan bendera kebanggan sebagai seorang petualang sejati. Menerobos, mengukur jalan yang belum pernah dilewati. Mengukir sejarah dalam sebuah kehidupan. Mencari arti dari sebuah kesenangan. Memaknai diri untuk sebuah penghargaan. Menciptakan pengalaman untuk masa depan. Terutama mencari arti pada sebuah kehidupan.

Pantai Sanur adalah tempat yang recommended untuk aku kunjungi pagi ini. Katanya pantai ini ramai ketika pagi hari. Karena pantai Sanur menghadap ke timur. Sehingga di pantai ini kita bisa menikmati sunrise atau matahari sedang terbit. Jarak pantai Sanur kurang lebih 30 menit dengan kendaraan bermotor dari tempat ku menginap. Akses menuju pantai Sanur tidaklah sulit, karena jalur masuk pantai Sanur dekat dengan salah satu jalan utama kota ini. Seperti halnya dengan Pandawa Beach, pintu masuk pantai Sanur juga dijaga oleh para pecalang. Tapi, disini tidak dipungut biaya. Hanya membayar Rp 2.000 untuk parkir motor saja. Ketika aku sampai di Pantai, aku sedikit terlambat. Karena matahari sudah meninggi. Sehingga aku tidak dapat menyaksikan momen indah saat matahari terbit dari laut. Pasir pantai Sanur berbeda dengan pasir pantai Kuta. Pasir pantai Sanur lebih terlihat seperti kumpulan batu-batu yang sangat kecil berwarna coklat. Seperti halnya di pantai-pantai lainnya, di pantai Sanur juga banyak orang yang berenang dan berjemur. Dan Sanur adalah tempat yang tepat untuk melakukan diving.  Selain itu, disini juga banyak perahu-perahu nelayan yang diparkir. Itu berarti disini juga tempat yang biasa pakai untuk mencari ikan. Dideretan pantai bagian atas, selain hotel, banyak juga terdapat kafe- kafe, resto kecil dan pedagang kaki lima. Ini menandakan tempat ini nyaman untuk dipakai nongkrong.

Keadaan pantai pagi ini cukup sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berjalan-jalan, berenang dan memotret-motret laut. Aku tiduran sejenak menikmati hangat matahari yang sedikit tertutup awan di pasir pantai Sanur yang lembut. Kemudian aku berjalan-jalan di air laut yang dangkal. Airnya begitu jernih. Banyak siput, kepiting kecil, udang dan hewan-hewan laut lainnya. Binatang laut itu begitu mudah untuk ditangkap.

Pagi di Pantai Sanur

Pasir Pantai sanur

Moe korong

Moe korong again

Mr.Krabs

Dasar laut Pantai Sanur

Air laut Sanur


Mejeng di Pantai Sanur


Ketika hari sudah mulai beranjak siang, aku bergegas meninggalkan Sanur. Karena cuaca pantai pada siang ini terlalu panas untuk berlama-lama disini. Aku jalan-jalan mengelilingi pulau Dewata ini. Melihat-lihat jalanan kotanya, merasakan suasana pedesaan, dan menikmati pemandangan alamnya. Luas jalanan di Bali tidak terlalu besar-besar. Hampir sama dengan di Bandung. Namun, karena volume kendaraan yang tidak terlalu penuh, membuat jalanan disini tidak macet. Bentuk dan tata kota nya cukup artistik. Mencerminkan nilai seni disini begitu kental. Dari cara mereka membangun kota, memperlihatkan bahwa mereka masih mengagungkan adat-istiadat leluhurnya. Banyak patung-patung dewa dipajang, gapura-gapura berbentuk pura, hingga rumah yang terlihat seperti candi. Itulah ciri khas pulau ini. Sebagai pulau impian.

Jalanan Bali

Jalanan Bali

Jalanan Bali

Jalanan Bali

Jalanan Bali

Jalanan Bali

Bali


 Setelah berputar-putar mengelilingi jalanan pulau Bali, aku beristirahat sejenak disebuah taman. Taman ini berada di kota Denpasar. Tidak jauh dari pantai Sanur yang tadi pagi aku datangi. Taman nya cukup luas. Ditengah-tengah taman ada sebuah candi. Taman ini biasa orang sini jadikan sebagai tempat berolah raga di pagi hari. Nama taman ini adalah Lapangan Niti Mandala Renon. Dan taman ini juga menjadi Landmark kota Denpasar.

Lapangan Niti Mandala Renon

Niti Mandala Renon

Candi Renon

Candi Renon

 
Tempat berikutnya yang ingin aku datangi adalah Nusa Dua Beach. Tempat ini adalah tempat yang nantinya akan menjadi tempat terselanggaranya ajang kontes kecantikkan dunia Miss World. Pantai di Nusa Dua adalah pantai yang paling indah yang pernah aku kunjungi sepanjang hidupku sampai saat ini. Pasir pantainya sama persis seperti pasir pantai di Sanur. Para pengunjung pantai disini hampir semua adalah turis asing. Jarang sekali aku temui wisatawan lokal yang datang kesini. Hampir seluruh garis pantai di Nusa Dua dikelilingi oleh hotel-hotel dan resto-resto mewah. Tempat ini seperti eksklusif diperuntukkan bagi penghuni hotel atau pengunjung resto saja. Namun sebenarnya tempat ini dibuka untuk umum. Untuk menuju pantai di Nusa Dua, dari jalan utama kita harus melewati pengecekkan ketat dari pihak keamanan. Lalu kita melewati sebuah komplek perhotelan mewah. Dari sinilah tempat ini terkesan eksklusif.

Luas pantainya cukup besar. Dengan garis pantai yang panjang. Ditengahnya ada batu karang yang besar. Dibatu karang itu dibangun jalan kecil dan jembatan. Diujung jembatan dibuat tempat sepeti sebuah dermaga yang nyaman. Tempat inilah yang paling menarik disini. Ketika ombak datang, kemudian dengan kencang pecah menghantam batu karang, maka air laut yang besar memuncrat keatas dan membasahi semua tempat dan jembatan disekitarnya.

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Dikejar Ombak

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Nusa Dua

Nusa Dua

Nusa Dua

Nusa Dua

Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Ombak Nusa Dua

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak

Dikejar Ombak


Samudera Hindia


Laut Nusa Dua Bali
 
Samudera Hindia

Samudera Hindia



 Dibawah batu karang yang besar, tempat yang sejajar dengan pantai, ada hamparan batu karang yang sedikit terendam oleh air laut. Disini tumbuh hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan laut kecil. Habitat kehidupan nya belum pernah aku temui sebelumnya. Disini hidup ikan-ikan kecil yang berbentuk aneh, kumbang keong laut yang tak bercangkang, kepiting kecil yang tampak tak berbaju, bintang laut berwarna hitam yang asing, gurita hitam kecil bak seperti monster, siput laut yang bersahabat dengan rumput laut, cankang-cangkang hewan laut yang mereka campakkan, dan masih banyak lagi benda-benda asing lainnya yang sangat menakjubkan.


Tempat kehidupan alam seperti ini pernah diparodikan oleh sebuah rumah produksi pembuat film animasi di Amerika. Tempat seperti ini mereka beri nama Bikini Bottom. Disana hidup peradaban hewan-hewan laut. Mereka hidup disebuah dunia yang memiliki aturan layaknya manusia hidup. Tapi Bikini Bottom hanya sebuah khayalan manusia abad ini tentang kehidupan laut. Bikini Bottom juga interpretasi bawah laut samudera Pasifik yang jauh disana. Bukan lautan Hindia yang dekat dengan Indonesia.

Kehidupan Laut

Pantai Nusa Dua

Ujung Darat Samudera Hindia

Kehidupan Bikini Bottom

Berburu Patrick

Bikini Bottom

Berburu Mr. Crab

Dasar Laut Nusa Dua

Pantai Nusa Dua

Dasar Laut Nusa Dua

Pantai Nusa Dua

Udang Laut

Hewan Laut

Pantai Nusa Dua

Pantai Nusa Dua

Nusa Dua Bali

***
 
Rabu, 14 Agustus 2013. Langit sedikit mendung. Namun cahaya matahari masih bisa menerobos masuk diantara celah-celah awan. Hari ini aku belum tahu mau berkelana kemana lagi. Yang pasti aku ingin ketempat yang berbeda dari kemarin-kemarin. Ini hari terakhirku bebas berpetualang seharian. Karena besok siang aku sudah harus meninggalkan pulau ini. Aku harus betul-betul menikmati hari terakhirku ini. Aku ingin membuat sebuah kesan yang indah, yang sulit untuk aku lupakan.

Pagi ini aku pergi kearah yang berbeda dari pantai. Aku belum punya tujuan. Namun, katanya, di dataran tinggi itu ada sebuah tempat yang indah. Aku pacu sepeda motor dengan cepat. Jalannya kecil namun lurus. Jarang ada tikungan. Ini adalah jalan provinsi. Jalan nya belum terlalu ramai. Hanya sesekali saja kendaraan datang bergerombol. Pemandangan nya cukup indah. Kanan-kiri jalan adalah sawah yang sangat luas atau terkadang ladang. Bentuk sawah nya cukup elok. Setiap satu kotak sawah dibatasi oleh galengan-galengan yang bertingkat. Terlihat subur sekali tanah disini. Setelah jalan lurus yang panjang, akhirnya jalanan menanjak dan berkelok-kelok. Kanan-kiri jalan nya adalah perkebunan khas dataran tinggi. Sekarang jalan mulai memutari sebuah pegunungan dengan pemandangan kabut yang tebal. Hawanya dingin sekali, terasa sampai menusuk tulang.

Ciwidey nya Pulau Bali

 
Ketika aku berhenti sejenak untuk beristirahat dan menghangatkan badan, aku ingat akan suatu tempat di Bandung yang mirip sekali dengan ini. Ya, ini mirip sekali dengan kawasan wisata Ciwidey. Mungkin, aku bisa menyebut ini dengan sebutan Ciwidey nya pulau Bali. Dari awal perjalanan, menemui jalan lurus yang panjang dengan berlatarkan sawah, mirip sekali dengan jalanan Soreang. Dan ketika jalan mulai menanjak, nyaris sama dengan jalan di Ciwidey. Hawanya pun tak jauh berbeda --- dingin. Tempat ini bernama Bedugul.

Bedugul Bali

Bedugul Bali

Bedugul Bali

bedugul Bali

Bedugul Bali


 
Akhirnya aku tiba di kawasan wisatanya. Sebuah danau yang luas. Danau tersebut bernama danau Beratan. Tempat nya tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Mungkin ini masih pagi. Karena katanya tempat ini ramai pada siang hari. Danau ini terletak tepat disamping jalan raya. Jadi untuk menikmati anugerah alam yang satu ini, kita tidak perlu mengeluarkan uang. Air danau nya lumayan bersih. Udaranya sangat sejuk, atau lebih tepatnya adalah dingin. Tempat ini berjarak 50 KM dari pusat kota Denpasar. Atau satu jam perjalanan.

Danau Beratan

Danau Beratan Bali

Danau Beratan

Danau Beratan

Danau Beratan Bali

Danau Beratan Bali

Danau Beratan Bali

Danau Beratan

Bedugul Bali


 
Tidak lama aku di Bedugul. Tidak banyak juga tempat yang aku kunjungi disini. Hanya danau Beratan saja. Padahal disini ada obyek wisata yang sangat terkenal. Tempat yang sangat bersejarah bagi masyarakat Bali. Pura Ulun Danu. Dekat sekali dengan danau Beratan ini. Namun karena udara yang terlalu dingin, aku ingin segera bergegas meninggalkan tempat ini. Aku ingin kembali ke Denpasar.

***



 
Tempat selanjutnya yang aku datangi adalah pantai Jimbaran. Pantai ini cukup populer bagiku. Karena pantai ini sering diceritakan di Televisi sebagai destinasi wisata di Bali. Selain Kuta, Jimbaran juga dekat dengan bandara. Bila Kuta berada di sebalah kanan bandara, maka Jimbaran disebelah kirinya. Jadi bandara Ngurah Rai Bali ada diantara pantai Kuta dan pantai Jimbaran. Jarak dari Denpasar kota menuju Jmbaran hanya 30 menit perjalanan. Akses menuju tempat ini sama seperti akses menuju pantai di Nusa Dua. Dikelilingi oleh hotel-hotel mewah.

Pantai pasir di Jimbaran berbeda dengan pasir diseluruh pantai yang pernah aku jumpai. Pasirnya berwarna putih. Bila kita genggam dan memperhatikan nya dengan baik, ini tidak terlihat seperti pasir. Namun kumpulan dari pecahan karang dan benda-benda laut lainnya yang hancur dan pecah sampai begitu kecil. Sehingga terlihat seperti pasir. Begitu lembut dan inilah pasir pantai terbaik. Pengunjung pantai ini hampir seluruhnya adalah wisatawan asing. Tak satupun aku lihat masyarakat lokal yang berlibur kesini. Bangunan yang berdiri hampir diseluruh pantai disini adalah hotel. Tidak ada yang aneh di Jimbaran. Hanya pasir pantainya yang unik. Cuaca pantai disini adalah terpanas dibanding cuaca seluruh pantai lainnya. Tempat ini sangat difavoritkan oleh pengunjung untuk berjemur.

Jika saat di Bedugul aku nyaris ciut karena menahan dingin, disini aku hampir melepuh terbakar oleh matahari. Tempat ini terlalu panas untuk ku. Bahkan, aku berlindung dibawah daun yang rimbun pun, cuaca panasnya masih saja sangat menyengat. Aku tidak tahan lama-lama disini. Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Tempat ini bukan tempat liburan yang cocok bagi orang Indonesia seperti ku.

Keluar dari area wisata pantai Jimbaran, aku masih rindu dengan pantai Kuta. Pantai itu terlalu memberikan kesan yang dalam bagiku. Dan sore ini aku kembali ingin menikmati sunset di pantai Kuta. Menikmati sore terakhir sebelum aku meninggalkan pulau Bali ini. Ingin berenang dan menikmati air lautnya yang hangat. Ingin berkerumun dan menikmati keramahan para wisatawan nya. Menikmati keramaian tempatnya. Dan menikmati keindahan pantainya.

Sampai di Kuta cuaca masih sangat panas. Aku susuri bagian pantai yang lebih dekat dengan bandara. Tampatnya sepi, tidak terlalu banyak pengunjung. Ditempat ini banyak perahu-perahu nelayan masyarakat setempat. Bila ingin menikmati laut dengan sebuah perahu kecil, disinilah tempat yang cocok. Karena gelombang ombaknya tidak terlalu tinggi. Dan juga tidak terganggu oleh pengunjung yang sedang berenang.

Semakin hari perjalanan ini terasa semakin membosankan. Rasanya aku ingin segera cepat pulang. Ingin segera hari esok. Biar aku bisa segera sampai ke rumah. Sudah terlalu lama aku disini. Dan tempat yang kudatangi hanya itu-itu saja --- pantai-pantai di Denpasar --- Kuta, Uluwatu, Pandawa Beach, Sanur, Nusa Dua, Jimbaran.  Hanya pantai yang sama ditempat yang berdekatan. Aku jenuh. Atau aku memang telah melewati puncak klimaks ku?

Kemudian aku pergi ke Kuta bagian yang lebih ramai nya. Memang disinilah tempat wisata yang paling ramai. Bercampur antara turis asing dan pengunjung domestik. Tak ada yang sungkan dan malu melakukan segala hal disini: bersepeda, joging, berenang, belajar selancar, berjemur, hingga pacaran. Mereka semua lakukan disini. Di pantai yang luas ini. Di pantai yang masyhur sampai negeri orang. Dan aku disini ikut menikmati suasana dengan mereka. Ini adalah sore terakhirku di pulau ini.

***



 
Kamis pagi, 15 Agustus 2013, di kota Denpasar. Aku baru bangun tidur. Langit masih gelap. Aku ingin melihat sunrise di pantai Sanur. Aku segera bergegas pergi. Takut tertinggal lagi seperti dua hari yang lalu. 30 menit kemudian aku tiba di Sanur. Cukup ramai pantai pagi ini oleh pengunjung. Dari cara berbicaranya, kebanyakan dari pengunjung adalah wisatawan dari pulau Jawa. Semuanya ingin menyaksikan matahari terbit disini. Namun, sepertinya matahari tidak akan terlihat terbit dengan sempurna pagi ini. Awan bergelayut tebal di langit timur pantai Sanur. Dan aku menikmatinya sendiri disini, disebuah dermaga kosong yang tak terpakai lagi.

Langit Pagi Sanur


 
Pulang dari Sanur, aku cepat-cepat mandi. Aku bereskan semua pakaian ku. Aku lipat, dan menyusunnya didalam tas ransel ku. Setelah semua rapi dan siap, aku check out dari hotel. Siang ini aku akan meninggalkan Bali. Aku akan pulang hari ini.

Keluar dari hotel, aku langsung menaiki bus yang akan membawa ku ke pelabuhan. Tak ada yang aneh saat perjalanan menuju pelabuhan. Rasa sedih, puas, bahagia, bangga, bosan, dan rindu sekarang berkumpul didalam hatiku. Sekarang aku akan meninggalkan Bali. Sebuah tempat yang pernah aku mimpikan. Dan hari ini aku telah menyelesaikan mimpiku. Mimpiku untuk berkelana di tanah impian. Tanah yang telah dijanjikan mimpi-mimpi. Aku telah menagih janjinya. Dan mimpi telah menepati janjinya.

Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan, akhirnya aku sampai di pelabuhan. Pelabuhan Gilimanuk, titik terbarat di pulau Bali. Dan sekarang aku ada di penghujung tanah impianku. Tanah impian semua orang. Aku membeli tiket dan langsung masuk ke pelabuhan. Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Sebuah kapal perry telah menunggu ku. Pukul 15:45 Waktu Indonesia Tengah adalah saat terakhir menginjakkan kaki ku di tanah ini. Kini, aku sudah menaiki kapal dan meninggalkan pulau ini. Diatas kapal yang sedang berlayar ingin sekali aku buat sebuah cerita tentang petualangan ini.

Pura

Dermaga Gilimanuk

Selat Bali

Selat Bali

Selat Bali
 
Bali. Tanah impianku. Tanah impian orang-orang. Aku datang untuk menagih janji. Aku puas dengan perjalanan ini. Hampir melepuh karena panas, nyaris ciut karena dingin, tersesat ditempat yang asing, hingga ku seberangi lautan. Bali, tempat terjauh yang pernah aku datangi. Tempat paling asing yang pernah aku kunjungi. Tempat terindah yang pernah aku temui. Dan ini adalah perjalanan paling menakjubkan yang pernah aku lewati. Aku bangga disini, jadi bagian dari orang yang mampu meraih mimpi.

Satu jam perjalanan laut. Kini kapal telah sampai di pulau Jawa. Aku turun dari kapal, dan langsung ke Stasiun kereta. Jarak pelabuhan dan stasiun tidak terlalu jauh. Stasiun berada di seberang jalan. Hanya 15 menit dengan berjalan kaki. Dan aku menunggu disini selama 6 jam.

Kereta berangkat pukul 22:00. Tiba di Surabaya pada jum’at subuh. Aku berganti kereta, dan  baru berangkat pukul 08:15. Tak ada yang dipikirkan disepanjang perjalanan selain ingin segera pulang. Kereta tiba di Bandung pada jum’at malam. Setelah sampai rumah aku langsung tidur. Tidur nyenyak sampai pagi.

***



 
Dua hari kemudian, aku kembali menjalani aktivitas ku. Kembali bekerja disebuah industri tekstil. Layar komputer, kertas-kertas, kartu proses produksi, susunan rencana produksi, omelan, cacian dan tekanan sekarang menumpuk dihadapan ku. Kembali aku sedang menghadapi aktivitas ku yang membosankan dan memuakkan.














 
----------- Bali, my dream land -----------

2 komentar:

  1. petualangan yang sangat berkesan bung :) nice pic
    salam kenal dari kamii

    BalasHapus
  2. Betul, petualangan yang sangat luar biasa...

    BalasHapus