Alarm dari ponsel ku berdering
sangat keras, saat itu menunjukan pukul 02:00 dini hari. Kemudian aku terbangun
setelah hanya baru 3 jam tidur. Sengaja aku men-set alarm di ponsel sepagi
mungkin, karena aku tak mau tertinggal kereta.
10 Agustus 2013, itu tanggal yang
muncul di kalender untuk hari ini. Hari ini adalah hari yang sangat ku
nantikan, karena dari hari ini, perlahan, aku akan mulai melangkah untuk
mewujudkan mimpi ku sebagai traveler.
Ya, aku ingin sekali berkelana menjelajahi seluruh bagian yang ada di bumi ini,
dataran tertinggi, dasar laut terdalam, gurun terpanas, kutub terdingin, goa
tergelap, hutan yang tak terlihat kehidupan, kota termodern, hingga
perkampungan paling primitif sejagat raya ini. Semua, semua ini ingin aku
jelajahi sampai tak ada lagi tempat yang belum pernah aku datangi. Karena,
sampai saat ini aku masih terkurung di pulau ---- yang apabila kita
lihat di peta gambar nya lebih mirip ikan laut yang tak berekor ----
Jawa.
Perjalanan untuk hari ini sudah
aku persiapkan sejak 71 hari yang lalu. Dan Bali adalah luar pulau pertama ku
dalam mewujudkan mega proyek besar ku untuk menjelajahi dunia. Aku pilih Bali
karena disana aku mendengar lagu indah tercipta, dari sana pula orang-orang
menyimpan mimpi indah nya, dan dari tempat ini juga orang-orang dari seluruh
dunia mengenal negeri ini.
Pukul 04:13, itu waktu yang ku
lihat di jam tangan plastik murahan ku saat aku tiba di stasiun. Kereta yang
akan aku naiki berangkat pukul 05:30, masih ada waktu lebih dari satu jam lagi.
Aku betul-betul menikmati saat itu, sebuah ruang tunggu Stasiun kereta. Banyak
orang disana, terutama para pemudik, karena dua hari kemarin adalah idul fitri,
dan hari ini masih dalam keadaan suasana lebaran. Aku duduk dibangku paling
depan, indah sekali saat itu, sungguh indah. Melihat orang-orang yang akan
pergi jauh, barang-barang setumpukkan yang mereka bawa, dan ada tangis haru
perpisahan disana.
 |
| Ruang Tunggu Staiun Kiaracondong |
 |
| Ruang Tunggu Stasiun Kiaracondong |
Langit sudah mulai sedikit
terang. Setengah jam lagi kereta berangkat. Aku tunjukkan tiket kereta pada
petugas. Baru aku bisa masuk ke-area dalam stasiun. Ku lihat kereta 7 gerbong
berbaris dengan angkuh, kaku, berdiri disiplin menunggu perintah. Laksana
tentara dari negeri antah berantah yang menunggu perintah dari komandan nya
untuk perang, setelah lama mereka latihan. Dan aku bangga disini, melihat
kendaraan sombong yang tak pernah mau mengalah ini. Aku bangga menjadi bagian
kecil dari orang-orang yang memanfaatkan kesombongan nya. Kawan, ku beri tahu
kau, jangan pernah berani menghalangi kereta yang sedang berjalan. Sebab, jika
kau punya nyali untuk itu, kamu akan terlihat konyol, kamu seperti menghadang
pasukan tentara yang akan perang. Dan kamu tidak punya apa-apa. Sedangkan
mereka membawa lengkap persenjataan. Bisa mati kau, dibunuh dengan sadis. Tak
ada pemohonan maaf disana. Dan kamu tak akan dikenang sebagai pahlawan. Kamu,
akan dikenang sebagai orang tolol, atau pecundang.
 |
| Kereta Api Pasundan Kiaracondong |
 |
| Kereta Api Pasundan |
Kereta mulai berjalan. Telat 23
menit dari yang dijanjikan. Petinggi negeri ini mengkhianati kesepakatan yang
telah aku dan mereka sepakati. Saat itu, di loket pemesanan tiket, aku dan
mereka telah membuat perjanjian. Ditempat keramat itu kita sepakat kereta
berangkat pukul 05:30. Namun apa yang terjadi, pukul 05:53 kereta baru
berangkat. Aku kecewa, hati ku sakit, aku merasa di khianati. Mereka
mengingkari nya tanpa rasa bersalah, tanpa permohonan maaf. Pengkhianatan
pertama: kereta terlambat berangkat.
Pagi yang indah, daun-daun masih
berembun, suara nyanyian burung dan matahari yang terbit dengan sempurna
menemani awal perjalanan ku. Disebelah utara gunung Manglayang yang tinggi,
menjulang, memperhatikan kami dengan senyum ramah nya. Di selatan, ya tuhan,
aku baru melihat nya pertama kali, yang bersembunyi dibalik kabut pagi ini,
Boscha? Ah, nampak nya bukan. Boscha tak mungkin terlihat dari sini. Karena
Boscha ada jauh di Lembang sana, di Bandung sebelah utara, bukan selatan.
Lantas bangunan apa itu? Bulat setengah bola, unik, megah, berdiri di ladang
yang kosong, sendiri, hanya sendirian. Oh iya, baru aku ingat, 10 tahun yang
lalu, tepat di tempat itu, aku mendengar pemerintah akan membangun panggung
pertunjukkan raksasa, yang megah, itu adalah theater of dream bagi kami, bagi penghuni kota ini, bagi rakyat
pasundan. Sebuah stadion canggih pertama yang dibangun di negeri ini, dengan
teknologi tinggi, desain modern, bertaraf internasional. Sungguh aku dibuat
takzim oleh nya. Inilah Gelora Bandung Lautan Api, simbol heroik tentang
perjuangan kota ini.
Setelah beberapa saat, kereta
mulai menerobos perbukitan, membelah gunung dan menyebrangi banyak sungai.
Banyak pemandangan yang menyegarkan sepanjang perjalanan. Pohon-pohon tinggi
yang rimbun, sungai yang deras dan jernih, batu-batu raksasa yang memaksa
menampakkan diri dari permukaan tanah, hingga rumah-rumah mungil dari kayu
diantara belantara hutan. Semuanya adalah pemandangan yang dapat aku pandang,
yang dapat aku nikmati. Aku menikmati apa yang dapat aku nikmati.
Tibalah kereta diantara dua
gunung yang tinggi. Kereta seakan ingin melompat dari bukit satu ke bukit lain
nya, atau kereta terbang untuk sampai di depan. Rasanya dua hal itu tidak
mungkin terjadi. Sebab kereta tidak akan pernah mengkhianati hukum fisika.
Sejak pertama kali kereta ditemukan dan kemudian dibuat, tidak pernah ada
kereta bisa melompat, apalagi terbang. Jelas kereta juga mengenal dengan baik
teori yang dikemukakan Sir Isac Newton. Tentang hukum gravitasi. Tapi tak
begitu dengan apa yang ku lihat dari jendela, kereta seakan betul-betul
melayang. Berjalan dengan sopan diantara dua gunung yang tinggi. Tak kulihat
penyangga, ataupun sayap untuk terbang. Rasanya, kereta yang ku tumpangi
mempunyai kekuatan mistis. Atau mungkin kereta sedang lupa teori paman ku Sir
Isac Newton, tentang hukum gravitasi.
 |
| Jalan Lingkar Nagreg |
 |
| Lingkar Nagreg |
Perlahan, kereta sudah menjauh dari
peristirahatan nya semalam. Meninggalkan Bandung dan kota-kota lain nya di Jawa
Barat ini. Sidareja, adalah stasiun pemberhentian pertama di Jawa Tengah,
sebuah stasiun kecil. Aku baru pertama kali mendengar nama daerah itu,
Sidareja. Aku pikir itu nama sebuah gereja kuno ditengah hutan, atau nama binatang
aneh semacam serangga. Aku belum pernah membacanya di peta. Apa mungkin google
lupa memasukan daerah ini di google maps nya, atau paman google menganggap nya
tidak penting sehingga menulisnya dengan kecil, sehingga aku terlewat ketika
membacanya. Ah lupakan sajalah.
Banyak penumpang baru yang naik.
Kereta pun mulai terisi penuh. Obrolan yang ku dengar pun sudah mulai berbeda
bahasa. Sudah jarang lagi ku dengar seorang ibu yang memarahi anak nya dengan
sumpah serapah khas sunda Baduy. Dan tak kudengar lagi di kursi belakang
seorang pemuda yang merayu perempuan dengan bahasa Gunung Halu nya. Sekarang
yang sering ku dengar adalah bahasa asing yang tak aku mengerti. Bahasa jawa ngapak,
bahasa yang aneh.
Tibalah di stasiun pemberhentian
berikutnya, masih ada penumpang yang naik dan turun. Bukan hanya penumpang,
sekarang yang naik bertambah lagi, mereka tak di undang, tak pula memiliki
tiket, mereka juga tak punya niatan untuk bepergian jauh seperti kami ---
para penumpang --- yang punya tujuan jelas. Lantas untuk apa mereka
naik? Ya, mereka adalah businessman
dan para musisi. Mereka berdagang dan mengamen di kereta ini. Kadang, dan
sering nya mengganggu kami. Namun kadang juga mereka menolong kami. Mereka
menjual makanan, sering menjadi solusi ketika kami kelaparan. Tapi sering pula
kami terganggu, nyanyian sumbang musisi itu, membangunkan kami ketika sedang
istirahat. Terutama, pedagang dan pengamen yang selalu memaksa, cukuplah membuat
keadaan tak nyaman. Ditambah jumlah mereka yang banyak, membuat kereta penuh
sesak, panas, walau ber-AC. Kembali, petinggi negeri ini mengecewakan ku,
terutama yang mengurusi bidang transportasi masal seperti kereta. Mereka
mengingkarinya lagi. Di televisi mereka berteriak-teriak kereta kelas apapun
bebas dari pedagang. Namun disini, kembali, mereka lupa dengan janji nya.
Pedagang jenis apapun bisa bebas naik turun sekehandak nya. Tak ada yang
melarang. Tak ada yang berani melarang lebih tepat nya. Padahal jumlah petugas
didalam kereta begitu banyak. Pengkhianatan kedua: masih ada pedagang dan
pengamen bebas naik turun.
Jauh sekali sudah kutinggalkan
kota ku. Perjalanan sejauh 1.177KM untuk membelah tiga perempat pulau Jawa,
lalu menyeberangi lautan untuk kemudian tiba di tanah yang telah dijanjikan
mimpi-mimpi, untuk menemui orang-orang yang telah dijanjikan mimpi-mimpi.
Perlahan, aku menemukan potongan mozaik ku yang tercecer. Kurangkai, aku susun
untuk membuat sebuah gambaran yang sempurna. Aku kembali menemukan keindahan
jiwa ku sebagai penikmat petualang, penjelajah keindahan dan pencari tantangan.
Aku akan terus melakukan apa yang tidak banyak orang lakukan, untuk kembali
menemukan jalan hidup yang baru, untuk menemui janji-janji yang telah diceritakan
dalam mimpi-mimpi ku, untuk menemui kenyataan dan untuk kembali membuat
mimpi-mimpi baru ku.
Sudah hampir setengah dari
perjalanan ku. Sesuai aturannya, aku akan sampai di Surabaya pada pukul 19:55
dan kemudian kembali menyambung dengan kereta lain nya yang berangkat pukul
22:00 untuk bisa sampai di ujung pulau ini. Namun, waktu sudah terlalu sore,
tapi perjalanan ku masih berada di pertengahan pulau ini. Aku mulai panik,
kalau-kalau kereta tidak sampai sesuai jadwal. Atau kalau-kalau kereta terlambat
lebih dari dua jam. Aku mencoba tenang, masih banyak waktu, walau kereta
berjalan semakin tidak pasti. Namun, nampaknya mimpi buruk itu semakin nyata,
kereta berhenti di tengah sawah. Menunggu kereta lain lewat dulu mungkin. Tapi
sudah setengah jam lebih kereta berhenti. Aku semakin kesal, sekarang sudah
pukul 18:00, tapi sampai Madiun pun belum. Sekarang sudah terlambat 3 jam dari
jadwal. Aku benar-benar panik, dan tidak bisa perpikir jernih lagi.
Kembali, aku mencoba tenang. Aku
tahu perjalanan selama 14 jam 25 menit sudah tidak realistis lagi. Aku mencoba
mencari informasi sana-sini: bertanya sama penumpang lain, mencoba berdebat
dengan kondektur, hingga turun dari kereta untuk berbicara dengan petugas
stasiun saat kereta berhenti. Namun, semua yang kudengar sungguh mengecewakan.
Saat aku mulai pasrah, tiba-tiba
sang kondektur kereta menghampiri. Petugas pemeriksa tiket ini memberikan
sedikit harapan. Dia berkata “saya sudah berbicara dengan masinis kereta
Mutiara Timur lewat pesan singkat. Katanya, dia akan menunggu bila penumpang
yang sambung kereta cukup banyak, dan apabila kereta ini terlambat nya tidak
terlalu lama”.
Semakin mengambang saja aku
dibuatnya. Sekarang pikiranku terbagi dua: antara harapan dan kekecewaan.
Karena penumpang yang akan sambung kereta jelas jumlahnya tidak cukup logis
untuk ditunggu. Dan lamanya keterlambatan, aku tidak tahu berapa lama lagi aku
akan sampai. Tapi aku harus berpikir positif, aku kemas semua barang-barang ku
yang masih tercecer. Aku masukan semua kedalam tas ransel ku. Ku gendong tas
ku, aku berjalan menuju pintu keluar, aku tunggu kereta sampai berhenti disitu.
Kereta terus melaju kencang. Aku
tidak tahu berapa lama lagi kereta akan sampai. Penumpang lain pun ikut
bergerombol menuju pintu keluar. Kereta mulai mengurangi kecepatan nya,
sepertinya sudah semakin dekat. Harapanku masih melambung. Aku berharap kereta
Mutiara Timur mau menunggu ku, walau aku sadar betul, aku sudah terlambat
terlalu lama.
“Masih kusimpan asa, masih aku percayai
kebaikan hati para pejabat tinggi perusaan kereta ini, aku masih berharap belas
kasih dari bapak masinis di depan, agar sudi kiranya menunggu ku, menunggu kami
sebelum kalian berangkat.” Kalimat itulah yang ingin aku sampaikan saat ini
kepada sang pilot kereta yang mungkin masih menunggu ku disana, atau mungkin
telah meninggalkan ku disini.
Kereta pun tiba di stasiun akhir.
22:36 waktu yang aku lihat pada digital layar ponsel ku. Aku langsung melompat
dari kereta. Berlari kearah yang tidak aku ketahui dengan tas ransel yang berat
di pundak ku. Aku mencari di semua sudut di stasiun ini. Aku mencari di semua
jalur kereta. Tapi, tak kulihat satu gerbong kereta pun disini. Sungguh aku
sangat kecewa.
Aku menghampiri seorang petugas
yang tengah berdiri diujung stasiun. Aku bertanya kepadanya. Dia pun menjawab
dengan suara yang berat. “Kereta sudah berangkat tepat pukul 22:00”.
Kembali, aku dikecewakan oleh
sistem yang dianut oleh perusahaan ini. Kumpulan orang-orang pintar yang
mengurusi perusahaan milik negara ini lagi-lagi membuatku patah hati. Sekarang,
disini, ditempat yang gelap ini, aku hancur dibuat olehnya. Rencana matang ku
yang sungguh sangat realistis, yang sudah aku persiapkan sejak 71 hari yang
lalu, kini, hancur terkhianati oleh mereka, dalam hitungan menit. Sungguh,
mereka kejam terhadapku. Tidak pernah mengerti keadaan ku. Tidak pernah
menghormatiku sebagai seorang yang harus diagungkan hak-haknya.
Mereka, sungguh sangat
keliru dalam mengelola perusahaan ini.
Mereka tidak pernah mau mempelajari tentang perkiraan keterlambatan kereta.
Mereka hanya mempromosikan tentang kelebihan-kelebihan nya saja: kendaraan
ber-AC, tarif murah, pemesanan tiket secara online. Tapi mereka menutup mata
tentang semua kekurangannya. Dimana mereka belajar menejemen perusahaan ini?
Haruskah aku yang mengajari nya! Dan dengan sangat kecewa ingin sekali lagi aku
katakan. Pengkhiatan ketiga: kereta selalu saja datang terlambat.
Aku keluar dari stasiun. Kini, aku
terjebak di negeri antah berantah, malam hari, tanpa sanak saudara disini, tak
ada yang aku kenal. Aku mengenal Surabaya hanya dari namanya saja. Aku tak tahu
jalanan disini, kebiasaan masyarakatnya, dan aku pun tidak tahu kehidupan malam
nya. Aku lapar, aku cape, aku lelah, aku ingin tidur. Tapi dimana, dimana aku
bisa tidur? Aku tidak ingin tumbang disini, aku tidak ingin mati konyol disini.
Aku harus bisa berpikir baik. Dan
sesegera mungkin keluar dari kota ini untuk melanjutkan perjalanan. Itu adalah
solusi. Pilihannya hanya ada dua: menunggu besok pagi untuk naik kereta pagi
atau mencari bus agar aku segera sampai di Banyuwangi. Dan pilihan kedua adalah
logis.
Aku mencari warung makan dulu
untuk mengisi perut. Karena sedari siang belum ada makanan yang masuk kedalam
perut ku. Tidak susah mencari warung makanan pada malam hari disini, yang susah
hanya warung makanan yang menjual nasi. Setelah berputar sana-sini, akhirnya
aku bertemu juga dengan pedagang yang menjual nasi. Tidak banyak macam makanan
yang dia jual. Hanya nasi putih dan ayam penyet. Pernah aku mendengar nama
‘ayam penyet’ disebuah restoran di Bandung. Namun aku belum pernah merasakan
rasanya seperti apa. Tertarik juga aku untuk mencobanya. Namun, ternyata
setelah aku santap dengan lahap karena lapar, rasanya, sungguh, seperti memakan
asing dari luar planet sana, rasanya sungguh tidak aku sukai. Ayam ini seperti
digoreng tanpa bumbu. Dan sambal ini, seperti tidak dikasih garam. Apakah ini
makanan khas negeri Jawa Timur itu? Apakah mereka tidak bisa membuat bumbu?
Atau apakah disini tidak ada bumbu?
Akhirnya aku dapat informasi yang
cukup berharga dari bapak penjual nasi aneh ini. Setelah selesai makan, dari
bapak ini aku tahu bahwa untuk menuju semua luar kota dari Surabaya dengan
menggunakan bus, kita harus pergi dulu ke ‘terminal Bungur Asih’. Karena dari
sana semua bus berkumpul. Bungur Asih adalah tempat selanjutnya yang harus aku
temui setelah warung nasi ini. Itu adalah tempat paling logis untuk saat ini.
Sebelum aku meninggalkan warung, si bapak sempat memberikan pesan kepadaku,
“hati-hati” ucapnya.
Aku cepat-cepat bergegas untuk
menemui terminal Bungur Asih. Untuk dapat sampai kesana aku harus dua kali naik
angkutan kota. Masih ingat jelas pesan terakhir dari sang bapak penjual nasi aneh
tadi, ‘hati-hati’ katanya. Ya, pikirku, memang harus hati-hati, karena ini
sudah sangat larut, dan aku tidak mengenal kota ini. Aku tidak boleh baik
kepada sembarang orang disini, mereka bisa berbuat hal yang dapat merugikan ku.
Sampai pula akhirnya aku di
terminal Bungur Asih. Sepertinya ini sudah masuk wilayah Sidoarjo perkiraan ku.
Sungguh megah terminal ini. Ini adalah terminal bus termegah yang pernah aku
temui sepanjang hidupku. Aku pernah kesemua terminal bus di Jakarta, dan aku
juga pernah kesemua terminal bus yang ada di Bandung. Menurutku, itu adalah dua
kota paling metropolis yang ada di negeri ini. Tapi, di dua kota itu tidak ada
terminal yang semegah terminal yang kulihat saat ini. Tempat yang bersih,
fasilitas yang lengkap, jumlah moda transportasi yang banyak, area yang luas,
dan bangunan yang cukup mewah untuk sekelas terminal bus. Bungur Asih, engkau
sungguh memberikan kesan yang indah dalam perjalanan malam ku.
Setelah memutari hampir seluruh
bagian stasiun, akhirnya aku naik bus. Aku duduk dibarisan kedua dari belakang.
Bus AC jurusan Surabaya – Banyuwangi ini mungkin akan memakan waktu sekitar 9
atau 10 jam untuk sampai di tujuan. Waktu yang cukup lama. Setelah aku duduk,
aku melihat penutup pentilasi pendingin di kursi ku rusak, dan sebrotan AC
tepat meniup wajah ku. Aku bisa mati kedinginan kalau begini caranya. Aku tidak
bisa pindah ketempat lain, karena semua kursi sudah terisi penuh. Tak habis
akal, aku tutup saja wajah ku dengan sapu tangan handuk yang tebal, dan itu
cukup membuat kepala ku hangat. Dan pikiran ku semakin tenang ketika bus sudah
mulai jalan. Ingin aku akhiri petualangan malam ku disini. Aku ingin tidur
nyenyak setelah ini. Agar besok aku punya cukup energi untuk melanjutkan
perjalanan.
Bus mulai melaju dengan kencang,
dan aku sudah tidak sadar ketika bus sudah masuk jalan tol. Kadang aku tersadar
oleh teriakan kondektur saat berkomunikasi dengan supir. Aku juga kadang
terbangun hanya untuk merubah posisi tidurku. Tapi, aku tidak betul-betul
sadar. Hanya sedikit terjaga saja. Penumpang dalam bus tidak semua bertujuan ke
Banyuwangi. Ada yang hanya sampai Jember, atau kota-kota lainnya di Jawa Timur.
Jadi, ketika bus sampai di suatu kota baru, sang kondektur selalu berteriak
untuk mengingatkan penumpang. Tapi karena tujuan ku adalah tujuan akhir bus
ini, maka tak pernah aku hiraukan teriakannya.
Aku baru terbangun pada pukul
06:00, itu pun karena dibangunkan sang kondektur. Saat itu bus baru sampai kota
Jember. Masih jauh untuk tujuan ku yaitu Banyuwangi. Aku juga tidak tahu,
kenapa dia membangunkan ku. Padahal ketika aku memabayar karcis tadi, dia sudah
tahu tujuan ku adalah Banyuwangi. Ah, kondektur yang aneh. Penumpang didalam
bus sudah tidak penuh lagi. Sudah tinggal kurang dari sepertiganya lagi.
Kemudian bus kembali jalan, namun tidak jauh. Ketika sampai terminal Jember,
bus pun berhenti. Lalu kondektur berkata pada para penumpang “mohon semuanya
pindah bus ya. Supir nya ngantuk. Tidak kuat lagi untuk melanjutkan
perjalanan.”
Ada apalagi ini, ucapku dalam
hati. Sudah ketinggalan kereta, susah cari bus, sekarang malah diturunin
ditengah perjalanan. Huft. Akupun turun dari bus, kemudian naik bus baru yang
ditunjukkan kondektur tadi. Sungguh sial. Semalam aku bayar bus dengan tarif
eksekutif, sekarang aku dipindahkan secara sepihak menuju bus yang ekonomi.
Tidak usah bayar ongkos lagi cetusnya.
Bus ini sungguh tidak nyaman.
Karena tidak ada AC, tempat duduk yang keras, dan jarak bangku yang sempit.
Tapi aku harus mensyukurinya, karena aku masih bisa melanjutkan perjalanan.
Perjalanan yang panjang, masih 3 sampai 4 jam lagi untuk mencapai Banyuwangi.
Kembali, aku menikmati
perjalanan. Karena jalan yang dilalui adalah pegunungan, jalur yang berkelok,
tikungan tajam, dan tanjakan yang panjang. Gunung Gumitir, inilah nama daerahnya.
Pohon-pohonnya tinggi, hutannya lebat, tapi ruas jalannya begitu sempit.
Menakutkan, karena pengendara yang mau melewati jalur ini haruslah yang sudah
lihai betul berkendara. Bukan hanya lihai dalam berkendara, namun orang yang
melewati jalur ini harus benar-benar menguasai treknya. Inilah jalur yang
paling berbahaya yang pernah aku lewati. Bahkan ini lebih menakutkan dibanding
jalur antara kota Garut dan Pameungpeuk. Dulu, dijalur Garut Pameungpeuk itu,
aku pernah jatuh dari kendaraan, dan membuatku trauma cukup lama dalam
berkendara. Gunung gelap nama daerahnya. Selain jalanan yang berkelok,
pohon-pohon raksasa di sepanjang jalan yang mengahalangi cahaya matahari masuk,
disana sering juga turun kabut. Makanya nama daerahnya disebut Gunung Gelap, karena
walau siang hari, disana masih saja gelap. Tapi disini, di Gunung Gumitir ini,
aku melihatnya lebih menakutkan. Dan yang lebih menakutkan, aku melihat
pemandangan mistis disini. Disepanjang perjalanan, aku melihat selalu saja ada
ibu-ibu yang berdiri sambil melambai-lambaikan tangannya kepada setiap
pengendara di tiap tikungannya. Pertamanya aku berpikir itu adalah penumpang
yang menunggu angkutan umum, dan sedang mencoba memberhentikan bus ini. Namun,
keadaan itu semakin janggal karena tidak ada satu kendaraan umum pun yang
berhenti. Lambaian tangan itu, mereka gerakkan secara statis, dengan tempo yang
sama, dan terus tanpa henti. Mungkin mereka sedang melakukan efek magis. Bukan
hanya ibu-ibu, diantara mereka ada juga yang berusia renta, dan ada juga yang
menggendong bayi. Sungguh membuatku heran dengan yang mereka lakukan.
Bus mulai melalui jalanan yang
datar, walau masih berkelok. Aku melihat keluar jendela. Ada lembah yang cukup
dalam yang dipenuhi rimbunnya pohon. Tapi, yang membuatku tertarik adalah, di
lembah itu ada jalur kereta api. Harusnya, aku sudah sampai di Banyuwangi, di
ujung paling timur pulau ini sejak dini hari tadi. Andai saja aku tidak
ketinggalan kereta, sudah aku hirup udara Bali siang ini.
‘Selamat Datang di Kota
Banyuwangi.’ Tulisan itu yang aku baca ketika sudah masuk kota Banyuwangi.
Inilah jalanan kota Banyuwangi: ramai, panas, namun masih asri. Kesan yang
ditimbulkan dari kota ini mengingatkan aku terhadap kota Garut. Mungkin karena
tata kotanya yang mirip. Toko-toko yang berderet disepanjang jalan,
sekolah-sekolahnya, sifat preman-premannya yang kampungan, hingga kantor
bupatinya begitu mirip. Aku ingin menjuluki kota ini sebagai Garut nya Jawa
Timur.
Aku pindah duduk ke kursi paling
depan. Penumpang sudah kosong dikursi depan, hanya di bus bagian belakang yang
masih banyak penumpang. Karena penumpang sudah banyak yang mulai turun sejak dari
tadi. Ketika aku mengangkat tas ku, ada hal yang ganjil yang kulihat. Resleting
utama, kenapa resleting nya ada ditengah dua-duanya? Kebiasaan ku, apabila
menutup resleting tas, aku selalu tutup sampai pinggir. Dan saku tasnya, kenapa
terbuka setengahnya? Perasaan ku mulai tidak enak. Aku mulai cek isi tas ransel
ku. Oh tidaaaakkk, Power bank yang baru aku beli, handphone klasik ku, uang, dua
kabel USB, earphone, tas kecil, parfum La for Man, kacamata hitam dan barang
lainnya yang tidak aku ingat, semuanya tidak ada, semuanya hilang. Sungguh,
seorang perampok yang halus benar-banar telah membuatku murka. Tidak tahukah
dia, aku ini sedang sial karena telah ketinggalan kereta? Aku ini sudah
merencanakan perjalanan ini sejak lama, mengapa dia tega merusaknya hanya dalam
hitungan cepat. Tidak tahukah dia, aku ini sampai menahan buang air besar sejak
dari rumah karena ingin segera cepat sampai. Mengapa, mengapa kau tega lakukan
itu padaku? Mengapa kau tega mengambil barang-barang yang aku persiapkan untuk liburanku
yang mengasyikan ini. Sungguh, kau telah merusak mood-ku, membuat hati ku kecewa, membuat ku murka. Aku ingin marah,
aku ingin membunuh perampok sialan itu, aku ingin membuatnya babak belur. Tapi
siapa? Kepada siapa aku harus marah? Tidak tahukah dia, apa yang dia lakukan
bisa membuat ku celaka. Bisa membuatku terjebak disini, di negeri antah
berantah, ditempat yang sangat dan teramat jauh dari rumah ku.
Aku hanya bisa sabar saja.
Menerima semua yang telah terjadi terhadap ku dengan ikhlas. Aku ingat, saat
makan di Surabaya semalam, bapak penjual nasi aneh itu berulang kali
mengingatkan aku untuk hati-hati. Dan aku juga mulai sadar, mungkin, saat
kondektur bus tadi membangunkan ku di kota Jember, dia ingin menyadarkan aku
bahwa aku telah habis dirampok. Aku yang kurang peka terhadap tanda-tanda ini.
Aku yang tidak bisa membaca isyarat yang ditunjukkan lingkunganku untukku.
Mungkin, saat aku kebingungan mencari bus di Terminal Bungur Asih, saat itulah
para perampok itu telah mengincarku. Aku lesu, semangat ku hancur, bahkan lebih
hancur dari saat aku ketinggalan kereta kemarin. Harapan ku untuk bisa
betul-betul menikmati perjalanan yang mengasyikan kini ternoda karena perampok
sialan itu. Sungguh, mereka cukup berhasil membuat suasana liburanku berantakan.
Terlebih untuk saat ini. Pelajaran moral nomor satu: jangan pernah tidur
disamping perampok.
Kini, bus telah sampai di
terminal Banyuwangi. Nama terminalnya adalah terminal Karang Ente. Dan aku
tidak tahu, masih berapa jauh lagi untuk menuju pelabuhan Katapang. Dan aku
juga tidak tahu, moda transportasi apa yang bisa aku pake untuk bisa sampai
disana. Ketika aku turun dari bus, aku seperti berada disebuah stadion sepak
bola yang sangat besar. Banyak penonton disana, semua seperti memperhatikan
aku. Bahkan, hanya untuk jalan beberapa langkah saja, aku begitu gugup, lebih
gugup dari para model yang sedang berjalan diatas catwalk. Karena, semua orang di terminal itu seperti memperhatikan
aku. Aku berada ditempat yang asing bagiku. Dan aku bingung dengan tujuan ku. Aku
begitu takut, orang-orang melihat semua bawaanku, terutama tas ranselku. Aku
peluk erat tas ku. Kemudian, seorang tukang becak datang, dia menawariku, lalu
tidak lama berselang, supir angkot datang, dia juga menawariku. Banyak
calo-calo. Mereka semua berteriak-teriak saling memperebutkan aku untuk jadi
penumpang nya. Mereka semua kampungan. Mereka berhasil mengintimidasiku. Aku
benar-benar begitu takut, teramat takut.
Akhirnya aku putuskan untuk naik
angkot saja. Begitu sepi angkot yang aku naiki. Di kaca angkot pun tidak ada
tulisan jurusan angkotnya. Ini semakin membuatku takut. Aku takut dibawa
keliling ketempat jauh yang bukan tujuan ku, lalu ketika sampai di tujuan ku,
aku diminta ongkos yang besar. Apalagi diangkot ini tidak ada orang lain lagi.
Aku memeluk erat tas ku. Aku tidak ingin kejadian konyol menimpa ku lagi.
Tapi dugaan ku keliru. Ketika
angkot sudah jalan, aku mulai berbincang dengan sang supir. Dia menjawab ku
dengan halus. Dengan tidak ada keberatan. Sangat ramah, begitu supel, enak
diajak bicara. Ternyata mereka kasar dan menakutkan hanya ketika di terminal
saja. Mereka saling berantem hanya dengan calo yang lain, tapi tidak bersikap
kasar terhadap penumpang, terutama penumpang asing.
Akhirnya aku tiba juga di
Ketapang. Sebuah mesjid besar menjadi tempat ku untuk istirahat sejenak. Aku
mulai melupakan kejadiaan buruk yang menimpa ku kemarin malam. Aku harus
menikmati sisa perjalanan ku yang mengasyikan ini. Aku cuci muka dulu, gosok
gigi, dan melakukan apa yang tidak bisa namun ingin aku lakukan selama
perjalanan panjang yang melelahkan sejak dari kemarin. Aku Sholat Dzuhur dan
Ashar dulu disana, dengan di qashar --- Menyatukan dua waktu shalat
seperti dzuhur dan ashar dalam satu waktu, dan mengurangi jumlah raka’atnya
menjadi dua raka’at dalam setiap waktunya. Ini adalah rukhshoh atau keringanan
bagi yang sedang bepergian jauh.
Setelah shalat, aku duduk-duduk
untuk melepas lelah di halaman mesjid.
Bangunan mesjid ini lebih tinggi dari jalan. Dan ruang utamanya berada
di lantai dua. Jadi, aku bisa dengan enak melihat pemandangan, tanpa ada
penghalang. Tepat di seberang jalan mesjid ini berdiri sebuah pelabuhan besar
yang mewah. Dan diseberang lautan sana, aku melihat daratan yang hijau. Pulau
itulah tujuan ku. Itulah tanah-tanah yang telah dijanjikan oleh mimpi-mimpi.
Disanalah aku akan menemui orang-orang yang telah dijanjikan mimpi-mimpi. Aku,
sekarang telah membelah tiga perempat pulau Jawa ini dengan sebuah perjalanan
yang sangat mengesankan. Inilah perjalanan paling prestisius yang pernah aku
lakukan. Disini, diujung paling timur pulau yang paling aku cintai ini, aku,
untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, akan meninggalkan pulau ini dengan
segala kenangan nya. Aku akan menemui mimpi-mimpi itu. Pulau Bali, pulau dengan
segala keindahan nya, aku akan menemui mu sekarang. Tepat didepan mataku, di
pelabuhan itu, aku akan menggoreskan cerita baru dalam hidupku tentang
perjalananku. Dan tepat, didepan mataku, di pulau yang hijau itu, petualangan
baru ku akan dimulai.
Aku mulai memasuki gedung
pelabuhan. Ketapang nama pelabuhan ini. Aku memasuki lorong peron pemeriksaan
tiket setelah tadi aku membelinya. Disanalah kapal peri itu sedang menungguku,
menyambutku ditengah birunya air laut yang eksotis. Disejauh mata memandang itulah
pulau impian itu berada. Aku memasuki kapal yang yang sudah hampir penuh. Aku
langsung naik kelantai dua. Banyak bule-bule disini. Aku memandangi lautan yang
tak berujung disepanjang mataku memandang. Aku memandangi pertemuan daratan dan
lautan yang menakjubkan, yang menghilangkan dahaga mataku. Tempat inilah yang
diberi nama Selat Bali itu.
 |
| Selat Bali |
Kapal perry mulai berjalan.
Inilah pertamakalinya aku menyeberangi lautan, inilah fase baru dalam hidupku,
dan inilah yang disebut dengan sejarah. Sekarang, aku berada ditengah lautan
luas, untuk menyeberangi dua pulau yang berbeda.
 |
| Kapal Perry Katapang-Gilimanuk |
 |
| Selat Bali |
 |
| Kapal Perry Selat Bali |
 |
| Selat Bali |
Kapal perry mulai merapat ke
dermaga. Inilah pelabuhan Gilimanuk itu. Aku turun dari kapal, keluar menuju
dermaga. Pukul 13:18 WIB atau pukul 14:18 WITA untuk pertama kalinya aku
menginjakkan kakiku di pulau ini. Dan untuk pertama kalinya juga aku berada
diluar pulau Jawa. Inilah perjalanan terjauhku sepanjang hidupku. Dan Bali
adalah pulau pertama yang aku datangi. Karena pulau ini adalah pulau impian
banyak orang didunia. Hari ini, 11 Agustus 2013 pukul 14:18 WITA aku menuliskan
dengan tinta sejarah baru dalam buku cerita hidupku tentang petualanganku yang
menakjubkan.
Aku keluar dari pelabuhan,
kemudian menyeberang jalan dan masuk menuju terminal. Tidak jauh jarak antara
pelabuhan dan terminal bus ini. Hanya 5 menit berjalan kaki. Tujuanku sekarang
adalah Denpasar, ibukota Provinsi pulau ini. 134KM adalah jarak darat yang akan
aku tempuh dengan 4-5 jam perjalanan dengan kendaraan umum. Didalam terminal
aku mencari bus yang menuju kota Denpasar. Disini, tidak ada bus-bus besar
seperti di Jawa. Moda transportasi antar kota nya adalah bus kecil yang di Jawa
Barat sering disebut Elf. Bus kecil inilah yang akan mengantarkan aku menuju
Denpasar.
Lalu aku naik kedalam bus. Aku
pilih kursi paling depan agar dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
Bus mulai berjalan, menyusuri sepanjang pantai selatan pulau Bali. Jalannya
kecil dan tidak terlalu banyak berkelok, lurus terus mengikuti alur pantai
disebelah kanan jalan. Dikanan-kiri jalan banyak ditumbuhi pohon-pohon besar
yang rindang daunnya. Kadang, daunnya tersusun rapi menutup langit laksana
sebuah atap yang sengaja dibangun rapi untuk menutupi jalan ini. Cahaya matahari
seperti malu-malu masuk menerobos diantara sela-sela dedaunan yang rimbun.
 |
| Jalan Gilimanuk-Denpasar |
 |
| Jalan Gilimanuk-Denpasar |
Kemudian aku lihat padang rumput
yang luas. Disana dibiarkan sapi-sapi berwarna coklat hidup liar. Tak ada
penggembala, tak ada kandang. Mungkin ini adalah adat daerah sini. Aku pernah
mendengar cerita sapi yang dibiarkan hidup liar ditengah kota, di India. Mereka
menganggap sapi sebagai hewan keramat. Bahkan disana, air kencing sapi
dijadikan sebagai air suci. Mungkin karena persamaan adat dan agama antara
India dan Bali, disini, sapi juga dianggap keramat.
Disebelah kanan jalan ada
pemandangan yang indah, sebuah laut dengan garis pantai yang sangat panjang.
Sepanjang jalanan ini. Ombak-ombak disana adalah ombak-ombak besar khas pantai
selatan di pulau Jawa. Karena disana Samudera Hindia berada. Sebuah lautan
lepas yang terasa tak berujung. Sebab, jika kita berenang atau berlayar dari
pulau ini lurus terus menuju arah ke selatan, kita tidak akan pernah menemukan
lagi daratan hingga kita temui kutub selatan dari Bumi ini. Bentuk jalanan yang
seperti ini biasa aku lihat di televisi ketika menyiarkan tempat-tempat di
daerah Eropa sana. Ketika air sedang pasang dan ombak sedang besar, kadang
cipratan dari ombaknya bisa sampai jalan. Dan, apabila matahari sedang terik,
pelangi-pelangi kecil selalu muncul setelah ombak pecah ditahan beton penyangga
jalan.
Akhirnya perjalananku sampai di
terminal Ubung, setelah menempuh 5 jam perjalanan darat dari pelabuhan
Gilimanuk. Terminal Ubung adalah terminal besar ditengah kota Denpasar.
Denpasar inilah tempat di indonesia yang paling banyak dikenal orang di dunia.
Dan tempat ini juga yang paling banyak dikunjungi oleh mereka. Setelah turun
dari bus, kemudian aku mencari penginapan untuk mengistirahatkan badanku yang
sudah terlalu lelah menempuh panjangnya perjalanan.
Kesan pertama yang aku dapat dari
tempat ini adalah tentang kebiasaan masyarakat sini. Sebagai seorang muslim,
aku tak biasa melihat hal seperti ini. Disini kesyirikan begitu tampak. Ada
begitu banyak macam patung disini: patung manusia, hewan, dan banyak jenis
patung lainnya. Begitu banyak jumlahnya, dan besar-besar. Hampir disetiap
tempat ada. Mungkin, simbol inilah yang mereka anggap sebagai tuhan. Dan,
disepanjang trotoar jalan, didepan rumah-rumah warga, aku melihat banyak
sesajen yang dihidangkan. Dibungkus dengan daun janur yang dianyam menyerupai
misting makanan. Didalamnya ada berbagai macam makanan sehari-hari manusia. Kadang,
ada juga air kopi yang sudah diseduh, sebatang rokok, dan selalu ditaburi bunga.
Hal lainnya yang begitu asing bagiku, hampir disemua tempat, aku mencium bau
dupa yang dibakar. Begitu menyengat baunya. Selain itu semua, disini kita tidak
mudah menemukan warung makanan yang halal. Kita harus selektif ketika mau
makan. Biasanya, para penjual makanan muslim selalu menuliskan di label brand
mereka dengan tulisan “halal” atau tulisan “warung makan muslim”. Biasanya para
penjual makanan muslim adalah transmigran dari pulau Jawa.
Sebuah hotel melati ditengah kota
Denpasar akan menjadi penginapanku empat hari kedepan. Aku memilih ditengah
kota agar mudah bepergian kemana-mana. Karena, biasanya tengah kota itu
tempatnya strategis. Walaupun awalnya aku merencanakan menginap didaerah yang
lebih dekat dengan pantai. Harga sewa hotel ini permalam relatif murah, bila
mengingat sekarang adalah musim liburan. Tapi memang, fasilitas yang ditawarkan
kurang memuaskan. Hanya kasur spring bed,
lemari kaca, kamar mandi, dan kipas angin saja. Tidak ada Televisi, ataupun AC.
Tapi tempatnya cukup nyaman. Namun karena tempatnya tepat berada di jalan utama
kota Denpasar, suara bising kendaraan tidak pernah berhenti, bahkan sampai
larut malam sekalipun. Tapi aku menikmatinya.
Setelah selesai mandi, aku
bongkar bawaan ku didalam tas, kemudian aku tata diatas lemari. Aku set waktu
di jam tangan ku menjadi Waktu Indonesia Tengah. Agar memudahkan aku dalam
beradaptasi dengan perbedaan waktu. Aku coba cari informasi tentang
tempat-tempat wisata disini dengan bertanya pada orang-orang, membaca panduan
wisata, hingga browsing internet
supaya memudahkan ku ketika mengunjungi suatu tempat.
***
Senin pagi, 12 Agustus 2013, Aku
begitu bersemangat menyambut hari ini. Karena, hari ini aku akan menjelajahi
pulau ini. Aku akan berkeliling mendatangi tempat-tempat yang ingin aku
datangi. Kini, tempat-tempat yang telah dijanjikan mimpi-mimpi itu telah berada
dihadapanku. Pulau inilah yang telah aku mimpikan untuk aku datangi. Dan tempat
ini pula yang banyak orang mimpikan. Dan aku disini, perlahan, telah menemui
tempat-tempat yang telah dijanjikan mimpi-mimpi itu. Disini, aku bangga menjadi
bagian dari orang-orang yang selalu berusaha untuk menemui mimpi-mimpi itu.
Aku butuh kendaraan pribadi untuk
berkeliling di pulau ini. Karena, kalau aku mengandalkan kendaraan umum, secara
waktu dan biaya mungkin tidak efisien. Dan motor adalah kendaraan paling logis
yang bisa aku sewa. Ternyata, ditengah kota Denpasar tidak sulit untuk mencari
tempat penyewaan kendaraan bermotor. Disini, kita mudah menjumpai tempat rental
motor. Harga sewanya juga tidak terlalu mahal. Hanya dengan membayar Rp 60.000,
motor itu bisa jadi milik kita selama 24 jam, bebas kita pakai kemana saja
semau kita. Dan syaratnya juga benar-benar tidak rumit, sangat mudah, hanya
dengan menjaminkan KTP saja.
Pantai Kuta adalah tempat yang
aku datangi pertama kali. Jaraknya kurang lebih 30 menit perjalanan motor dari
pusat kota. Jalanan didaerah Kuta mirip dengan jalan Braga di Bandung sana.
Banyak tempat hiburan, tempat makan, hotel-hotel, dan outlet pakaian. Ini
adalah tempat wisata paling populer dan paling ramai dikunjungi di Bali. Baik
oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal. Ditempat inilah pada tanggal
12 oktober 2002 sebuah tragedi dahsyat terjadi. Dua bom meledak di Paddy’s Pub
dan Sari Club di jalan Legian, Kuta. Kejadian itu cukup menggemparkan dunia,
terutama Indonesia. Sebab, tragedi tersebut menewaskan kurang lebih 202 orang
korban meninggal. Sebagian besar adalah turis asing yang sedang menikmati
liburannya ditempat ini. Sekarang ditempat ini dibangun sebuah monumen yang
dikenal dengan nama Monumen Bom Bali atau Monumen Ground Zero. Di dinding
monumen ditulis nama-nama ratusan korban yang meninggal.
 |
| Monumen Bom Bali |
Masuk pantai Kuta tidak dipungut
biaya sama sekali. Berbeda dengan pantai-pantai di pulau Jawa sana yang
memasang tarif masuk, disini semua orang bisa bebas menikmati suasana alam
pantai tanpa harus bayar sepeser pun. Pantai Kuta adalah pantai yang paling
banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pasirnya berwarna coklat, hampir murni
berbentuk pasir tanpa campuran pecahan batu karang. Pantai ini menghadap kearah
barat, dengan demikian dipantai ini kita bisa menikmati
sunset atau proses tenggelamnya matahari saat sore tiba. Disebelah
kiri pantai terlihat dekat, membujur kearah pantai seperti tanjung, sebuah
bandar udara, Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Dari tempat ini kita bisa
menikmati pemandangan pesawat yang sedang
take
off dan
landing. Pantai ini cukup
bersih dari sampah-sampah, karena disini ada petugas khusus kebersihan pantai
Kuta. Tinggi ombaknya sedang, khas samudera Hindia. Cukup aman untuk berenang
sampai 100 meter dari bibir pantai. Selain untuk berenang, berjemur dan
berselancar pantai ini sangat cocok untuk menikmati hari dalam menghabiskan
waktu bersantai dibawah pepohonan.
 |
| Pantai Kuta |
 |
| Moe Korong |
Setelah puas menikmati pagi di
pantai Kuta, kemudian aku pergi ketempat lainnya yang mahsyur dikata orang. Aku
pergi kemana hati ini ingin pergi. Tanpa ada tujuan yang jelas. Yang penting
sampai ditempat yang indah. Aku pergi kemanapun jalan ini mengarahkan ku.
Hingga tiba disebuah jalan yang sempit dan sepi. Kanan dan kiri jalan adalah
kebun yang luas, atau lebih tepat bila aku menyebutnya sebagai hutan. Udaranya
masih harum tanpa terpengaruh bau polusi kota. Kadang tampak sapi-sapi liar.
Tak ada pemukiman sama sekali, dan jarang sekali terjamah manusia. Itu terlihat
dari ranting-ranting dan daun-daun pohon yang menutupi sebagian jalan. Namun,
walaupun begitu, jalanannya sudah sangat bagus dengan aspal yang tampak baru.
Akhirnya aku tiba diujung jalan.
Sungguh menakjubkan apa yang aku temukan disini, sebuah pemandangan laut yang
sangat sangat luar biasa. Aku melihat hamparan air laut yang begitu luasnya
diatas ketinggian sebuah tebing. Yang tampak disini seperti hamparan padang air
yang tak berujung. Tak ada penghalang antara tempatku berdiri hingga disejauh
kemampuan mataku memandang. Inilah Samudera Hindia itu. Sebuah laut yang
sebenarnya. Uluwatu, sebuah tempat yang begitu sangat menakjubkan. Sebuah
ketinggian, dimana kita dapat melihat aktivitas peermukaan air laut yang
sebenarnya. Sebuah keindahan yang begitu menakjubkan.
Disini aku bertemu dengan dua
orang bule. Mereka tampak ramah dan begitu hangat sikapnya. Sepertinya kalau
boleh aku tebak, mereka adalah suami-istri. Ketika tadi aku melintas dengan
sepeda motorku sambil memotret disekitaran jalan, mereka mengagetkan ku dengan
tiba-tiba muncul didepan jarak area fotoku dengan aksi jenakanya. Aku senang
bisa bertemu dengan mereka. Mereka begitu akrab. Dan aku bisa berfoto dengan mereka
ditempat yang indah ini. Uluwatu.
 |
| Bule-bule gila |
 |
| Pantai Uluwatu |
 |
| Memandang Samudera Hindia |
 |
| Aku dan Bule-bule |
 |
| Pantai Uluwatu Bali |
Aku mencoba turun dari tebing
menuju pantai. Namun, jalan setapak yang aku lewati begitu curam dan
menyeramkan. Walaupun siang hari, tapi hawanya begitu angker. Pohon-pohonnya
menutupi langit hingga cahaya matahari sulit masuk. Sepertinya hewan buas jenis
apapun layak hidup disini. Sekarang, antara rasa takut dan ingin tahu bertarung
didalam hati. Dengan pertimbangan dan perhitungan rumus kalkulasi untung-rugi,
akhirnya aku putuskan untuk kembali keatas, dan membatalkan niatku menerobos
belantara hutan. Dan aku harus melupakan rasa penasaranku melihat bentuk pantai
belantara yang ada dibawah. Uluwatu.
 |
| Uluwatu |
 |
| Tebing Uluwatu |
 |
| Hutan Uluwatu |
 |
| Lembah Uluwatu |
 |
| Tebing Uluwatu |
***
Dulu, aku pernah membuka
internet, dan melihat gambar gunung batu kapur. Ada pahatan-pahatan buatan
manusia disana. Tempatnya dekat dengan pantai. Begitu indah, seperti diluar
negeri. Pada saat itu aku berjanji, jika aku ke Bali, aku harus ketempat ini.
Setelah aku ada disini baru aku tahu namanya adalah Pandawa Beach. Posisinya
tidak terlalu jauh dari Uluwatu. Hanya beberapa kilometer saja. Tempatnya tidak
terlalu ramai, sedikit jauh dari jalan raya. Namun, aksesnya tidak susah,
jalannya juga bagus. Pintu masuk tempat wisata ini dijaga oleh Pecalang, atau
polisi adat Bali. Harga tiket masuknya hanya Rp 2.000 perorang untuk wisatawan
domestik, dan Rp 1.000 untuk biaya parkir motor. Kontur tanahnya berbentuk
tebing-tebing. Jarang aku lihat ada pohon hidup disini. Mungkin karena tanahnya
adalah batu kapur, jadi tumbuhan tidak hidup disini. Pengunjung yang datang
ketempat ini lebih banyak memilih untuk berfoto-foto daripada menikmati
alamnya. Wajar saja, karena tebing batu kapur disini dipahat rata dan dibentuk
sehingga tampak indah jika diabadikan dalam sebuah gambar. Diantara
tebing-tebing itu juga dibuat banyak patung-patung dewa kepercayaan masyarakat
sini. Patung-patung inilah yang menjadi Landmark Pandawa Beach.
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa beach |
 |
| Pandawa beach |
 |
| Pandawa Beach |
Pasir pantai
Pandawa Beach berwarna coklat, mirip dengan pasir pantai Kuta. Dipantainya dibangun
kafe-kafe dan resto yang sederhana, namun terlihat high class. Orang-orang yang menghabiskan liburannya disini lebih
banyak didominasi oleh turis asing. Ada juga wisatawan lokal yang berlibur
kesini, tapi kebanyakan dari kelas menengah keatas. Mayoritas dari pengunjung
Pandawa Beach menghabiskan waktu hanya untuk berenang dan berjemur.
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
 |
| Pandawa Beach |
Setelah puas
berkeliling di Pandawa Beach, aku kembali ke hotel untuk beristirahat.
Sebenarnya aku masih ingin berkeliling untuk menjelajah setiap destinasi wisata
disini, namun, cuaca kota Denpasar hari ini begitu cerah, cenderung panas
terik. Dilangit hampir tidak ada awan berkumpul. Jadi aku putuskan untuk
kembali dulu ke hotel menunggu matahari sedikit redup. Rencananya sore hari aku
ingin kembali ke Kuta untuk menikmati sunset.
***
Pantai Kuta sore
ini jauh lebih ramai dari tadi pagi. Ya, karena pantai Kuta lebih indah
dinikmati pada sore hari. Apalagi ketika langit benar-benar cerah sempurna
seperti hari ini. Aktivitas para pengunjung pantai ini jauh lebih beragam dari
pantai manapun di pulau Bali. Disini orang ada yang berenang, berjemur, duduk
santai, joging, main voli, sepak bola, melatih hewan peliharaan, berselancar,
hingga pacaran.
 |
| Pantai Kuta |
 |
| Pantai Kuta |
 |
| Pantai Kuta |
 |
| Pantai Kuta |
 |
| Pantai Kuta |
 |
| Pantai Kuta |
Sepertinya sunset sore ini tidak akan terlalu
sempurna, karena awan sedang berkumpul tepat ditempat matahari akan
menenggelamkan dirinya. Namun, sore ini adalah sunset yang paling hampir sempurna yang pernah aku saksikan.
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses Sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
 |
| Proses Sunset di Kuta |
 |
| Proses sunset di Kuta |
Inilah akhir dari petualanganku
hari ini. Aku menikmati suasana pantai Kuta sampai malam hari.
***
Selasa pagi, 12 Agustus 2013. Aku
kembali bersemangat menyambut hari. Kini, petualanganku akan dilanjutkan. Aku
belum tahu tempat mana saja yang akan aku kunjungi. Aku berbincang sejenak
dengan pemilik hotel, mencari rekomendasi destinasi tempat yang layak aku
jelajahi. Dia menyebutkan beberapa tempat, namun aku masih buta dengan pulau
ini. Tapi aku selalu mengikuti naluri kemana ingin pergi.
 |
| Ruang Lobby Hotel |
Dengan memakai kostum klub
sepakbola kebanggaanku, aku akan kembali memulai penjelajahan ini. Mengibarkan
bendera kebanggan sebagai seorang petualang sejati. Menerobos, mengukur jalan
yang belum pernah dilewati. Mengukir sejarah dalam sebuah kehidupan. Mencari
arti dari sebuah kesenangan. Memaknai diri untuk sebuah penghargaan.
Menciptakan pengalaman untuk masa depan. Terutama mencari arti pada sebuah
kehidupan.
Pantai Sanur adalah tempat yang recommended untuk aku kunjungi pagi ini.
Katanya pantai ini ramai ketika pagi hari. Karena pantai Sanur menghadap ke
timur. Sehingga di pantai ini kita bisa menikmati sunrise atau matahari sedang terbit. Jarak pantai Sanur kurang
lebih 30 menit dengan kendaraan bermotor dari tempat ku menginap. Akses menuju
pantai Sanur tidaklah sulit, karena jalur masuk pantai Sanur dekat dengan salah
satu jalan utama kota ini. Seperti halnya dengan Pandawa Beach, pintu masuk
pantai Sanur juga dijaga oleh para pecalang. Tapi, disini tidak dipungut biaya.
Hanya membayar Rp 2.000 untuk parkir motor saja. Ketika aku sampai di Pantai,
aku sedikit terlambat. Karena matahari sudah meninggi. Sehingga aku tidak dapat
menyaksikan momen indah saat matahari terbit dari laut. Pasir pantai Sanur
berbeda dengan pasir pantai Kuta. Pasir pantai Sanur lebih terlihat seperti
kumpulan batu-batu yang sangat kecil berwarna coklat. Seperti halnya di
pantai-pantai lainnya, di pantai Sanur juga banyak orang yang berenang dan
berjemur. Dan Sanur adalah tempat yang tepat untuk melakukan diving.
Selain itu, disini juga banyak perahu-perahu nelayan yang diparkir. Itu
berarti disini juga tempat yang biasa pakai untuk mencari ikan. Dideretan
pantai bagian atas, selain hotel, banyak juga terdapat kafe- kafe, resto kecil
dan pedagang kaki lima. Ini menandakan tempat ini nyaman untuk dipakai
nongkrong.
Keadaan pantai pagi ini cukup
sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berjalan-jalan, berenang dan
memotret-motret laut. Aku tiduran sejenak menikmati hangat matahari yang
sedikit tertutup awan di pasir pantai Sanur yang lembut. Kemudian aku
berjalan-jalan di air laut yang dangkal. Airnya begitu jernih. Banyak siput,
kepiting kecil, udang dan hewan-hewan laut lainnya. Binatang laut itu begitu
mudah untuk ditangkap.
 |
| Pagi di Pantai Sanur |
 |
| Pasir Pantai sanur |
 |
| Moe korong |
 |
| Moe korong again |
 |
| Mr.Krabs |
 |
| Dasar laut Pantai Sanur |
 |
| Air laut Sanur |
 |
| Mejeng di Pantai Sanur |
Ketika hari sudah mulai beranjak
siang, aku bergegas meninggalkan Sanur. Karena cuaca pantai pada siang ini
terlalu panas untuk berlama-lama disini. Aku jalan-jalan mengelilingi pulau Dewata
ini. Melihat-lihat jalanan kotanya, merasakan suasana pedesaan, dan menikmati
pemandangan alamnya. Luas jalanan di Bali tidak terlalu besar-besar. Hampir
sama dengan di Bandung. Namun, karena volume kendaraan yang tidak terlalu
penuh, membuat jalanan disini tidak macet. Bentuk dan tata kota nya cukup
artistik. Mencerminkan nilai seni disini begitu kental. Dari cara mereka
membangun kota, memperlihatkan bahwa mereka masih mengagungkan adat-istiadat
leluhurnya. Banyak patung-patung dewa dipajang, gapura-gapura berbentuk pura,
hingga rumah yang terlihat seperti candi. Itulah ciri khas pulau ini. Sebagai
pulau impian.
 |
| Jalanan Bali |
 |
| Jalanan Bali |
 |
| Jalanan Bali |
 |
| Jalanan Bali |
 |
| Jalanan Bali |
 |
| Jalanan Bali |


 |
| Bali |
Setelah berputar-putar mengelilingi jalanan
pulau Bali, aku beristirahat sejenak disebuah taman. Taman ini berada di kota
Denpasar. Tidak jauh dari pantai Sanur yang tadi pagi aku datangi. Taman nya
cukup luas. Ditengah-tengah taman ada sebuah candi. Taman ini biasa orang sini
jadikan sebagai tempat berolah raga di pagi hari. Nama taman ini adalah
Lapangan Niti Mandala Renon. Dan taman ini juga menjadi Landmark kota Denpasar.
 |
| Lapangan Niti Mandala Renon |
 |
| Niti Mandala Renon |
 |
| Candi Renon |
 |
| Candi Renon |
Tempat berikutnya yang ingin aku
datangi adalah Nusa Dua Beach. Tempat ini adalah tempat yang nantinya akan
menjadi tempat terselanggaranya ajang kontes kecantikkan dunia Miss World.
Pantai di Nusa Dua adalah pantai yang paling indah yang pernah aku kunjungi
sepanjang hidupku sampai saat ini. Pasir pantainya sama persis seperti pasir
pantai di Sanur. Para pengunjung pantai disini hampir semua adalah turis asing.
Jarang sekali aku temui wisatawan lokal yang datang kesini. Hampir seluruh
garis pantai di Nusa Dua dikelilingi oleh hotel-hotel dan resto-resto mewah. Tempat
ini seperti eksklusif diperuntukkan bagi penghuni hotel atau pengunjung resto
saja. Namun sebenarnya tempat ini dibuka untuk umum. Untuk menuju pantai di
Nusa Dua, dari jalan utama kita harus melewati pengecekkan ketat dari pihak keamanan. Lalu kita
melewati sebuah komplek perhotelan mewah. Dari sinilah tempat ini terkesan
eksklusif.
Luas pantainya cukup besar.
Dengan garis pantai yang panjang. Ditengahnya ada batu karang yang besar. Dibatu karang itu dibangun
jalan kecil dan jembatan. Diujung jembatan dibuat tempat sepeti sebuah dermaga
yang nyaman. Tempat inilah yang paling menarik disini. Ketika ombak datang,
kemudian dengan kencang pecah menghantam batu karang, maka air laut yang besar
memuncrat keatas dan membasahi semua tempat dan jembatan disekitarnya.
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Nusa Dua |
 |
| Nusa Dua |
 |
| Nusa Dua |
 |
| Nusa Dua |
 |
| Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Ombak Nusa Dua |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Dikejar Ombak |
 |
| Samudera Hindia |
 |
| Laut Nusa Dua Bali |
 |
| Samudera Hindia |
 |
| Samudera Hindia |
Dibawah batu karang yang besar, tempat yang
sejajar dengan pantai, ada hamparan batu karang yang sedikit terendam oleh air
laut. Disini tumbuh hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan laut kecil. Habitat
kehidupan nya belum pernah aku temui sebelumnya. Disini hidup ikan-ikan kecil
yang berbentuk aneh, kumbang keong laut yang tak bercangkang, kepiting kecil
yang tampak tak berbaju, bintang laut berwarna hitam yang asing, gurita hitam
kecil bak seperti monster, siput laut yang bersahabat dengan rumput laut,
cankang-cangkang hewan laut yang mereka campakkan, dan masih banyak lagi
benda-benda asing lainnya yang sangat menakjubkan.
Tempat kehidupan alam seperti ini pernah
diparodikan oleh sebuah rumah produksi pembuat film animasi di Amerika. Tempat
seperti ini mereka beri nama Bikini Bottom. Disana hidup peradaban hewan-hewan laut.
Mereka hidup disebuah dunia yang memiliki aturan layaknya manusia hidup. Tapi
Bikini Bottom hanya sebuah khayalan manusia abad ini tentang kehidupan laut.
Bikini Bottom juga interpretasi bawah laut samudera Pasifik yang jauh disana.
Bukan lautan Hindia yang dekat dengan Indonesia.
 |
| Kehidupan Laut |
 |
| Pantai Nusa Dua |
 |
| Ujung Darat Samudera Hindia |
 |
| Kehidupan Bikini Bottom |
 |
| Berburu Patrick |
 |
| Bikini Bottom |
 |
| Berburu Mr. Crab |
 |
| Dasar Laut Nusa Dua |
 |
| Pantai Nusa Dua |
 |
| Dasar Laut Nusa Dua |
 |
| Pantai Nusa Dua |
 |
| Udang Laut |
 |
| Hewan Laut |
 |
| Pantai Nusa Dua |
 |
| Pantai Nusa Dua |
 |
| Nusa Dua Bali |
***
Rabu, 14 Agustus 2013. Langit sedikit mendung.
Namun cahaya matahari masih bisa menerobos masuk diantara celah-celah awan.
Hari ini aku belum tahu mau berkelana kemana lagi. Yang pasti aku ingin
ketempat yang berbeda dari kemarin-kemarin. Ini hari terakhirku bebas
berpetualang seharian. Karena besok siang aku sudah harus meninggalkan pulau
ini. Aku harus betul-betul menikmati hari terakhirku ini. Aku ingin membuat
sebuah kesan yang indah, yang sulit untuk aku lupakan.
Pagi ini aku pergi kearah yang berbeda dari
pantai. Aku belum punya tujuan. Namun, katanya, di dataran tinggi itu ada
sebuah tempat yang indah. Aku pacu sepeda motor dengan cepat. Jalannya kecil
namun lurus. Jarang ada tikungan. Ini adalah jalan provinsi. Jalan nya belum
terlalu ramai. Hanya sesekali saja kendaraan datang bergerombol. Pemandangan
nya cukup indah. Kanan-kiri jalan adalah sawah yang sangat luas atau terkadang
ladang. Bentuk sawah nya cukup elok. Setiap satu kotak sawah dibatasi oleh
galengan-galengan yang bertingkat. Terlihat subur sekali tanah disini. Setelah
jalan lurus yang panjang, akhirnya jalanan menanjak dan berkelok-kelok.
Kanan-kiri jalan nya adalah perkebunan khas dataran tinggi. Sekarang jalan
mulai memutari sebuah pegunungan dengan pemandangan kabut yang tebal. Hawanya
dingin sekali, terasa sampai menusuk tulang.
 |
| Ciwidey nya Pulau Bali |
Ketika aku berhenti sejenak untuk beristirahat
dan menghangatkan badan, aku ingat akan suatu tempat di Bandung yang mirip
sekali dengan ini. Ya, ini mirip sekali dengan kawasan wisata Ciwidey. Mungkin,
aku bisa menyebut ini dengan sebutan Ciwidey nya pulau Bali. Dari awal
perjalanan, menemui jalan lurus yang panjang dengan berlatarkan sawah, mirip
sekali dengan jalanan Soreang. Dan ketika jalan mulai menanjak, nyaris sama
dengan jalan di Ciwidey. Hawanya pun tak jauh berbeda --- dingin. Tempat
ini bernama Bedugul.
 |
| Bedugul Bali |
 |
| Bedugul Bali |
 |
| Bedugul Bali |
 |
| bedugul Bali |
 |
| Bedugul Bali |
Tidak lama aku di Bedugul. Tidak
banyak juga tempat yang aku kunjungi disini. Hanya danau Beratan saja. Padahal
disini ada obyek wisata yang sangat terkenal. Tempat yang sangat bersejarah
bagi masyarakat Bali. Pura Ulun Danu. Dekat sekali dengan danau Beratan ini.
Namun karena udara yang terlalu dingin, aku ingin segera bergegas meninggalkan
tempat ini. Aku ingin kembali ke Denpasar.
***
Tempat selanjutnya yang aku
datangi adalah pantai Jimbaran. Pantai ini cukup populer bagiku. Karena pantai
ini sering diceritakan di Televisi sebagai destinasi wisata di Bali. Selain
Kuta, Jimbaran juga dekat dengan bandara. Bila Kuta berada di sebalah kanan
bandara, maka Jimbaran disebelah kirinya. Jadi bandara Ngurah Rai Bali ada
diantara pantai Kuta dan pantai Jimbaran. Jarak dari Denpasar kota menuju Jmbaran
hanya 30 menit perjalanan. Akses menuju tempat ini sama seperti akses menuju
pantai di Nusa Dua. Dikelilingi oleh hotel-hotel mewah.
Pantai pasir di Jimbaran berbeda
dengan pasir diseluruh pantai yang pernah aku jumpai. Pasirnya berwarna putih.
Bila kita genggam dan memperhatikan nya dengan baik, ini tidak terlihat seperti
pasir. Namun kumpulan dari pecahan karang dan benda-benda laut lainnya yang hancur
dan pecah sampai begitu kecil. Sehingga terlihat seperti pasir. Begitu lembut
dan inilah pasir pantai terbaik. Pengunjung pantai ini hampir seluruhnya adalah
wisatawan asing. Tak satupun aku lihat masyarakat lokal yang berlibur kesini.
Bangunan yang berdiri hampir diseluruh pantai disini adalah hotel. Tidak ada
yang aneh di Jimbaran. Hanya pasir pantainya yang unik. Cuaca pantai disini
adalah terpanas dibanding cuaca seluruh pantai lainnya. Tempat ini sangat
difavoritkan oleh pengunjung untuk berjemur.
Jika saat di Bedugul aku nyaris
ciut karena menahan dingin, disini aku hampir melepuh terbakar oleh matahari. Tempat
ini terlalu panas untuk ku. Bahkan, aku berlindung dibawah daun yang rimbun
pun, cuaca panasnya masih saja sangat menyengat. Aku tidak tahan lama-lama
disini. Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Tempat ini bukan tempat liburan
yang cocok bagi orang Indonesia seperti ku.
Keluar dari area wisata pantai
Jimbaran, aku masih rindu dengan pantai Kuta. Pantai itu terlalu memberikan
kesan yang dalam bagiku. Dan sore ini aku kembali ingin menikmati sunset di pantai Kuta. Menikmati sore
terakhir sebelum aku meninggalkan pulau Bali ini. Ingin berenang dan menikmati
air lautnya yang hangat. Ingin berkerumun dan menikmati keramahan para
wisatawan nya. Menikmati keramaian tempatnya. Dan menikmati keindahan
pantainya.
Sampai di Kuta cuaca masih sangat
panas. Aku susuri bagian pantai yang lebih dekat dengan bandara. Tampatnya
sepi, tidak terlalu banyak pengunjung. Ditempat ini banyak perahu-perahu
nelayan masyarakat setempat. Bila ingin menikmati laut dengan sebuah perahu
kecil, disinilah tempat yang cocok. Karena gelombang ombaknya tidak terlalu
tinggi. Dan juga tidak terganggu oleh pengunjung yang sedang berenang.
Semakin hari perjalanan ini
terasa semakin membosankan. Rasanya aku ingin segera cepat pulang. Ingin segera
hari esok. Biar aku bisa segera sampai ke rumah. Sudah terlalu lama aku disini.
Dan tempat yang kudatangi hanya itu-itu saja --- pantai-pantai di
Denpasar --- Kuta, Uluwatu, Pandawa Beach, Sanur, Nusa Dua,
Jimbaran. Hanya pantai yang sama
ditempat yang berdekatan. Aku jenuh. Atau aku memang telah melewati puncak
klimaks ku?
Kemudian aku pergi ke Kuta bagian
yang lebih ramai nya. Memang disinilah tempat wisata yang paling ramai.
Bercampur antara turis asing dan pengunjung domestik. Tak ada yang sungkan dan
malu melakukan segala hal disini: bersepeda, joging, berenang, belajar selancar,
berjemur, hingga pacaran. Mereka semua lakukan disini. Di pantai yang luas ini.
Di pantai yang masyhur sampai negeri orang. Dan aku disini ikut menikmati
suasana dengan mereka. Ini adalah sore terakhirku di pulau ini.
***
Kamis pagi, 15 Agustus 2013, di
kota Denpasar. Aku baru bangun tidur. Langit masih gelap. Aku ingin melihat sunrise di pantai Sanur. Aku segera
bergegas pergi. Takut tertinggal lagi seperti dua hari yang lalu. 30 menit
kemudian aku tiba di Sanur. Cukup ramai pantai pagi ini oleh pengunjung. Dari
cara berbicaranya, kebanyakan dari pengunjung adalah wisatawan dari pulau Jawa.
Semuanya ingin menyaksikan matahari terbit disini. Namun, sepertinya matahari
tidak akan terlihat terbit dengan sempurna pagi ini. Awan bergelayut tebal di
langit timur pantai Sanur. Dan aku menikmatinya sendiri disini, disebuah
dermaga kosong yang tak terpakai lagi.
 |
| Langit Pagi Sanur |
Pulang dari Sanur, aku
cepat-cepat mandi. Aku bereskan semua pakaian ku. Aku lipat, dan menyusunnya
didalam tas ransel ku. Setelah semua rapi dan siap, aku check out dari hotel. Siang ini aku akan meninggalkan Bali. Aku
akan pulang hari ini.
Keluar dari hotel, aku langsung
menaiki bus yang akan membawa ku ke pelabuhan. Tak ada yang aneh saat
perjalanan menuju pelabuhan. Rasa sedih, puas, bahagia, bangga, bosan, dan
rindu sekarang berkumpul didalam hatiku. Sekarang aku akan meninggalkan Bali.
Sebuah tempat yang pernah aku mimpikan. Dan hari ini aku telah menyelesaikan
mimpiku. Mimpiku untuk berkelana di tanah impian. Tanah yang telah dijanjikan
mimpi-mimpi. Aku telah menagih janjinya. Dan mimpi telah menepati janjinya.
Setelah kurang lebih 5 jam
perjalanan, akhirnya aku sampai di pelabuhan. Pelabuhan Gilimanuk, titik
terbarat di pulau Bali. Dan sekarang aku ada di penghujung tanah impianku.
Tanah impian semua orang. Aku membeli tiket dan langsung masuk ke pelabuhan.
Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Sebuah kapal perry telah menunggu ku.
Pukul 15:45 Waktu Indonesia Tengah adalah saat terakhir menginjakkan kaki ku di
tanah ini. Kini, aku sudah menaiki kapal dan meninggalkan pulau ini. Diatas
kapal yang sedang berlayar ingin sekali aku buat sebuah cerita tentang
petualangan ini.
 |
| Pura |
 |
| Dermaga Gilimanuk |
 |
| Selat Bali |
 |
| Selat Bali |
 |
| Selat Bali |
Bali. Tanah impianku. Tanah
impian orang-orang. Aku datang untuk menagih janji. Aku puas dengan perjalanan
ini. Hampir melepuh karena panas, nyaris ciut karena dingin, tersesat ditempat
yang asing, hingga ku seberangi lautan. Bali, tempat terjauh yang pernah aku
datangi. Tempat paling asing yang pernah aku kunjungi. Tempat terindah yang
pernah aku temui. Dan ini adalah perjalanan paling menakjubkan yang pernah aku
lewati. Aku bangga disini, jadi bagian dari orang yang mampu meraih mimpi.
Satu jam perjalanan laut. Kini
kapal telah sampai di pulau Jawa. Aku turun dari kapal, dan langsung ke Stasiun
kereta. Jarak pelabuhan dan stasiun tidak terlalu jauh. Stasiun berada di
seberang jalan. Hanya 15 menit dengan berjalan kaki. Dan aku menunggu disini
selama 6 jam.
Kereta berangkat pukul 22:00.
Tiba di Surabaya pada jum’at subuh. Aku berganti kereta, dan baru berangkat pukul 08:15. Tak ada yang
dipikirkan disepanjang perjalanan selain ingin segera pulang. Kereta tiba di
Bandung pada jum’at malam. Setelah sampai rumah aku langsung tidur. Tidur
nyenyak sampai pagi.
***
Dua hari kemudian, aku kembali
menjalani aktivitas ku. Kembali bekerja disebuah industri tekstil. Layar
komputer, kertas-kertas, kartu proses produksi, susunan rencana produksi,
omelan, cacian dan tekanan sekarang menumpuk dihadapan ku. Kembali aku sedang
menghadapi aktivitas ku yang membosankan dan memuakkan.
----------- Bali, my
dream land -----------
petualangan yang sangat berkesan bung :) nice pic
BalasHapussalam kenal dari kamii
Betul, petualangan yang sangat luar biasa...
BalasHapus